Selasa, 16 Jul 2019
radarbali
icon featured
Politika

HOT! Giri-Asa Deklarasi, Oposisi Adem Ayem, Potensi Lawan Kotak Kosong

23 Juni 2019, 17: 34: 32 WIB | editor : ali mustofa

pilkada 2020, pilkada badung, pasangan petahana, pasangan giri-asa, oposisi adem ayem, kotak kosong

Paket petahana Nyoman Giri Prasta - Nyoman Suiasa (Istimewa)

Share this      

MANGUPURA – Pilkada Badung 2020 mulai diramaikan dengan deklarasi relawan kandidat. Yang paling hot tentu saja deklarasi Relawan Giri-Asa Jilid II.

Yup, pasangan petahana Nyoman Giri Prasta – Ketut Suiasa (Giri – Asa) bakal kembali meramaikan Pilkada 2020 mendatang.

Menurut informasi, kubu petahana telah mendeklarasikan Relawan GiriAsa Jilid II Posko Cengkok, Baha, pada Jumat (21/6) malam lalu.

Deklarasi ini untuk mendukung penuh paket Giri-Asa melanjutkan program selanjutnya. Deklarasi Relawan Giri-Asa didukung penuh Semeton Gus Bota serta relawan Golak and Sahabat (GAS).

Yang menarik, meski sudah mendeklarasikan diri, belum ada kepastian dengan paket ini, apakah bakal mendapat rekomendasi DPP PDIP apakah tidak.

Apalagi, partai oposisi sejauh ini belum juga menentukan sikap, apakah akan mengusung calon pada Pilkada 2020 mendatang.

Karena dari konstelasi politik di Kabupaten Badung, kursi di fraksi DPRD Badung meningkat. PDI Perjuangan Badung meraup 28 kursi dari 40 kursi yang ada.

Hal ini pun menjadi modal awal PDI Perjuangan untuk percaya diri dalam melangkah untuk mengusulkan petahana kembali tanpa adanya koalisi.

Sementara Partai Golkar dan Demokrat yang memiliki cukup kursi untuk mengusung calon juga enggan mau bicara banyak terkait Pilkada Badung.

Ketua DPC Partai Demokrat Badung, Made Sunarta mengakui, belum melakukan pembahasan terkait Pilkada serentak tahun 2020.

“Kami masih fokus dulu terhadap pengumuman dari KPU secara resmi terkait penetapan Calon legislatif yang lolos ke kursi DPRD Badung. Setelah itu baru menginjak ke hal-hal lainnya,” ujar Sunarta.

Disinggung apa akan melakukan koalisi dengan PDI Perjuangan atau Golkar, politisi yang juga Bendesa Adat Abianbase ini  mengakui  belum tahu. 

Sebab, ia memilih menunggu keputusan pusat dan daerah. “Kami masih menunggu penetapan caleg menjadi DPRD dulu,” ungkapnya kembali.

Begitu juga  Plt Ketua DPD Golkar Badung, Wayan Suyasa juga enggan  berkomentar banyak terkait pilkada serentak.

Ia memilih untuk  melakukan konsolidasi dulu dengan internal partai. “Kami masih konsolidasi di internal dulu, ” jelasnya.

Secara terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Badung, I Gusti Ketut Puriartha, mengaku partainya belum mengambil sikap apapun menatap pilkada Badung 2020 mendatang.

“Masih terlalu jauh bahas Pilkada Badung. Ini saja penetapan hasil Pilpres dan Pileg belum. Kita tunggu dulu penetapan dari KPU,” katanya.

Disinggung kemana Partai Gerinda berlabuh, melihat peta politik Badung saat ini, Gus Krobo sapaan akrab I Gusti Ketut Puriartha, tak banyak memberikan komentar.

“Kalau dari hitung-hitungan hanya PDIP yang bisa mencalonkan sendiri tanpa koalisasi. Sedangkan Golkar, Demokrat, Gerindra dan NasDem, tidak bisa.

Ini kalau dilihat dari syarat minimal untuk mengusung pasangan calon, syaratnya kan 20 persen perolehan kursi. Berarti minimal di Badung harus punya 8 kursi,” terangnya.

Sementara Ketua Relawan Giri Asa, I Wayan Tirta mengatakan, deklarasi ini bersamaan dengan HUT ke-5 Relawan, yang didirikan 5 tahun silam di tempat yang sama.

Kini relawan tersebut kembali digerakkan, guna menjadikan Nyoman Giri Prasta dan Ketut Suiasa mulus memasuki jabatan ke-2.

Itulah sebabnya kali ini disebutkan sebagai Relawan Giri -Asa jilid II. “ Posko Relawan kembali akan dihidupkan sebagai pusat perjuangan,

sehingga partisipasi masyarakat Badung semakin meningkat dalam setiap pemilihan pemimpinnya kelak, ” jelasnya.

Tirta didampingi sekretarisnya Pande Krisnayana dan penasehat Relawan Made Nariana menegaskan, tidak boleh lengah, apalagi merasa jumawa.

“Kalau toh nanti tidak ada lawan misalnya, relawan harus tetap berjuang keras, jangan sampai dikalahkan kotak kosong, sebab hal itu pernah terjadi dalam pemilihan  daerah di Makasar, ” pungkasnya.

(rb/dwi/mus/JPR)

 TOP