Senin, 18 Nov 2019
radarbali
icon featured
Features
Putu Cantika Dewi; Bocah dengan Gangguan Hati

Sekali Muntah Darah Bisa 1/2 Ember, Tak Sekolah Karena Sering Opname

24 Juni 2019, 22: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

gangguan hati, gangguan ginjal, keluarga miskin, Pemkab Klungkung, BPJS Kesehatan, RSUP Sanglah Denpasar, muntah darah, tak sekolah,

MIRIS : Putu Cantika Dewi bersama neneknya (Made Ayu Pitri Arisanti)

Share this      

Diusianya yang masih sangat belia, Putu Cantika Dewi, 7, sudah divonis mengalami gangguan hati. Mirisnya lagi, ditengah ketidakmampuan orang tuanya, adiknya Kadek Uli Puspitayani, 5, juga didiagnosa sama dan kini masih tergolek lemah di RSUP Sanglah Denpasar.

 

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Klungkung

 

Seperti lupa dengan penyakit yang dideritanya, bocah asal Dusun Tulang Nyuh, Desa Tegak, Klungkung ini terlihat asyik bermain dengan anjing di pekarang rumah orang tuanya.

Sambil diawasi neneknya, Ni Wayan Rumput, Dewi-begitu Putu Cantika Dewi disapa terlihat begitu menikmati dengan hewan peliharaannya itu.

Saat ditemui di rumahnya, Dewi dengan polos menunjukkan sikap ke kanak-kanakannya. Ia juga tampak sangat akrab dengan neneknya.

Maklum, sejak adiknya sakit dan harus bolak-balik opname di RS, Dewi lebih banyak di rumah dengan neneknya.

Kedua orang tuanya Komang Rupawan, dan Putu Nonik Artiani sedang berada di Denpasar menemani adiknya yang sedang dirawat di RS.

“Saya harus ketat mengawasi, setiap gerak-geriknya harus dibatasi. Kalau kelelahan nanti sakit dan harus minum obat lagi dan opname,”aku Rumput nenek Dewi.

Menurut Rumput, Dewi dan Puspita cucunya  merupakan kakak beradik yang didiagnosa mengalami gangguan hati. Bahkan Puspita juga mengalami gangguan pada ginjalnya. Penyakit tersebut sudah diidap kedua cucunya itu dari sejak kecil.

Dewi didiagnosa mengalami gangguan hati sejak berusia enam tahun. Sedangkan adiknya Puspita didiagnosa mengalami gangguan hati dan ginjal pada usia tiga tahun.

Pada saat itu, Dewi kerap mengalami demam dan berlanjut dengan mutah darah yang cukup banyak sehingga akhirnya dirawat di rumah sakit.

“Di rumah sakit dibilang gangguan hati. Semenjak itu sering keluar masuk rumah sakit karena mutah darah dan Hb (hemoglobin)-nya rendah. Jadi tidak pernah sekolah. Baru beberapa bulan masuk SD, sudah masuk rumah sakit terus. Seharusnya sudah kelas II SD cucu saya ini,” ungkapnya.

Sedangkan adiknya Puspita juga mengalami hal serupa. Bahkan sekali muntah darah bisa sampai setengah ember. Kondisi itu yang membuat Hb Puspita rendah sehingga harus dilarikan ke rumah sakit setiap muntah darah.

“Kedua cucu saya kalau kebanyakan bergerak dan salah makan, pasti inguh (gelisah) dan langsung dah mutah darah. Kalau muntah darah, harus dibawa ke rumah sakit karena takut drop,” terangnya.

Ketika diopname, menurutnya Dewi dan Puspita biasanya transfusi darah tiga kali seminggu. Dengan kondisi seperti itu, pihak keluarga selalu memilih mengopname Dewi dan Puspita di RS Sanglah karena tidak perlu donor pengganti ketika membutuhkan darah. Beda halnya jika di rawat di RSUD Klungkung, pihaknya harus menyediakan pendonor pengganti ketika membutuhkan darah.

“Bapaknya kan tidak mungkin terus donor darah. Teman-teman dan tetangga juga pernah menjadi pendonor. Malu kalau minta tolong donor terus. Jadi kalau diopname, dibawa ke Sanglah. Setelah transfusi, besar sekali perut cucu saya,” kata nenek berusia 53 tahun ini.

Untuk biaya perawatan selama sakit, Rumput mengaku semuanya telah ditanggung BPJS Kesehatan. Hanya saja untuk biaya transportasi, dan biaya makan, yang cukup menguras kantong mengingat ayah Dewi dan Puspita hanya sebagai tukang jagal babi dan buruh batu alam.

Sementara ibu Dewi dan Puspita tidak bekerja karena waktunya sudah habis untuk merawat keduanya. “Kalau obat-obatan, juga gratis. Satu hari itu, tiga kali minum obat. Pernah oleh dokter, Dewi disuruh berhenti minum obat selama dua bulan. Baru satu bulan tidak minum obat, sekujur tubuhnya berwarna kuning sampai dilarikan ke rumah sakit,” ujar Rumput.

Demi kesembuhan Dewi dan Puspita, pihak keluarga tidak hanya berupaya memberikan pengobatan medis namun juga non medis. Berbagai ritual pun telah dilakukan demi kesembuhan Dewi dan Puspita, namun sampai saat ini tidak menuai hasil.

“Pernah juga dikasi minyak untuk diminum sama baliannya (paranormal). Tapi karena sama dokternya tidak dibolehkan minum minyak, tidak saya kasi minum. Makan saja semua harus direbus. Semoga cucu saya bisa sembuh,” tandasnya.

(rb/ayu/pra/mus/JPR)

 TOP