Rabu, 21 Aug 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Merasa Mampu Hidup Mandiri, Sejumlah Penerima PKH Mengundurkan Diri

04 Juli 2019, 04: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

hidup mandiri, penerima pkh, dinsos buleleng

eserta Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Lokapaksa yang mengundarkan diri dari program PKH (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA – Sebanyak empat Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (KPM PKH) di Kabupaten Buleleng memilihkan mengundurkan diri.

Mereka mundur lantaran telah mampu membiayai kebutuhan sehari-hari. Meski baru menerima bantuan PKH selama beberapa tahun, mereka memilih mundur ketimbang terus menerus menerima bantuan pemerintah.

Hingga kini, tercatat ada 26.335 KPM di Buleleng yang mengikuti program PKH. Dari jumlah tersebut, sejumlah KPM telah dinyatakan “lulus” dari program PKH.

Entah itu mundur secara mandiri, atau dinilai telah “lulus” dari program PKH berdasarkan penilaian pendamping maupun aparat desa.

“Idealnya memang setelah 6 tahun berjalan menjadi peserta PKH, sudah ada perubahan taraf kesejahteraan keluarga.

Kalau memang dari penilaian belum layak, masih diberikan perpanjangan waktu selama tiga tahun,” kata Koordinator Pendamping PKH Buleleng, Gede Wiryawan saat dihubungi kemarin.

Pada bulan Juni lalu misalnya, ada empat KPM PKH yang memilih mengundurkan diri sebagai penerima PKH. Mereka sempat menjadi peserta PKH sejak setahun terakhir.

Kondisi perekonomian para peserta kini sudah membaik, sehingga memilih mengundurkan diri.

“KPM yang mundur ini memang taraf hidupnya sudah meningkat. Sebelumnya memang mereka jadi peserta PKH, karena memang layak. Tapi sekarang sudah tergolong mampu, sehingga memilih mundur sendiri,” imbuhnya.

Salah satu yang mundur ialah keluarga IGA Supiani, 42, warga Desa Lokapaksa. Supiani menjadi peserta PKH setahun lalu.

Keluarganya sempat jatuh miskin, sehingga tak mampu membiayai kelanjutan pendidikan anak-anaknya.

Supiani kemudian didaftarkan sebagai peserta PKH.

Seiring berjalannya waktu, ia nekat mengajukan pinjaman lunak ke bank untuk membangun usaha jual-beli. Ternyata usaha itu tumbuh, dan mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.

“Saya jadi peserta PKH tahun 2018 saja. Sekarang astungkara sudah bisa mandiri. Jualan kebutuhan pokok sudah dapat omset sampai Rp 1,2 juta sehari,” kata Supiani.

Terkadang ia juga menerima tawaran membuat banten pada momen-momen tertentu. “Kalau buat banten itu omsetnya bisa sampai Rp 6 juta sebulan. Tapi ya belum tentu sebulan sekali dapat,”tegasnya.

Meski sempat merasakan dana PKH selama setahun, Koordinator Kabupaten Buleleng Gede Wiryawan sangat mengapreasiasi usaha dan kesadaran keluarga IGA Supiani.

Pendamping sosial Ni Gusti Made Lia Harsini selama mendampingi keluarga Ibu Supiani memang melihat motivasi lebih untuk keluar dari jerat kemiskinan.

Lia Harsini juga berpesan agar KPM yang sudah graduasi mampu mempertahankan dan meningkatan apa yang sudah diperoleh saat ini.

Selain Supiani, Wiryawan juga mengatakan ada puluhan KPM yang bersiap membangun e-warung. Mereka pun memastikan akan graduasi mandiri setelah usaha mereka jalan dan ada penghasilan tetap.

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP