Minggu, 25 Aug 2019
radarbali
icon featured
Features
Tari Sakral Sang Hyang Penyalin

Tampil Apik di Twin Lake Festival, Rotan Menari Seperti Kuda Liar

04 Juli 2019, 16: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

twin lake festival, rotan menari, kuda liar, tari sang hyang penyalin, dispar buleleng

Pementasan tarian Sang Hyang Penyalin saat pembukaan Twin Lake Festival di Sukasada kemarin (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

Sebuah kesenian sakral khas Desa Pancasari, Sang Hyang Penyalin, ditampilkan pada hari pertama pelaksanaan Twin Lake Festival.

Tarian sakral itu tak ditampilkan sembarang waktu, dan tak selalu berhasil ditampilkan dalam acara hiburan.

EKA PRASETYA, Sukasada

MATAHARI mulai redup. Sejumlah warga mengenakan busana serba putih, naik ke panggung utama Twin Lake Festival, Rabu (3/7) sore.

Mereka tengah bersiap membawakan tari Sang Hyang Penyalin, sebuah tari sakral yang ada di Desa Pancasari.

Pemangku mulai proses dengan memercikkan tirta ke sekeliling panggung. Penari dan penyanyi kidung sang hyang juga diperciki air suci.

Ketua Sanggar Puspa Bala Giri Gede Adi Mustika kemudian menyalakan dupa. Dupa itu digunakan untuk mengasapi dua buah penyalinatau rotan yang dipegang dua orang penari.

Tak lama kemudian, rotan yang tadinya lemas, bergerak liar. Rotan kemudian meliuk-liuk mengarah ke langit. Lonceng yang dipasang pada ujung rotan, terus bergerincing.

Rupanya rotan telah dirasuki. Ida Taksu pun telah siap mesolah. Penari yang memegang penyalin pun berusaha mengimbangi gerakan rotan yang kian liar.

Sore itu, Sang Hyang Penyalin menghipnotis para pengunjung Twin Lake Festival. Mereka berusaha mengabadikan momen langka itu.

Beberapa diantaranya mencoba kesempatan memegang penyalin. Tak semua berhasil, ada pula yang gagal.

“Ini seperti jodoh. Kalau tidak jodoh ngiringang Ida, penyalin-nya tidak mau bergerak ke atas. Pasti menunduk. Tapi kalau sudah jodoh, penyalin pasti bergerak,” ungkap Ketua Sanggar Puspa Bala Giri Gede Adi Mustika.

Sebelum Sang Hyang Penyalin mesolah, harus ada serangkaian ritual yang dilaksanakan. Sebelum ditarikan, pemangku dari sekaa sanghyang harus melakukan ritual mepiuning untuk memunculkan taksu.

Setelah itu dilakukan padudusan di rotan, agar roh yang hadir, bersedia merasuki rotan yang telah disiapkan.

“Kalau berjodoh, pasti rotan itu akan trance, kerasukan. Kalau tidak jodoh dengan penarinya, ya tidak akan bisa. Siapa saja bisa menarikan, asal ada jodoh,” timpal Adi Mustika.

Menurut Adi, tari itu sudah ditarikan dari generasi ke generasi. Tari itu pertama kali dibawa ke Pancasari pada tahun 1958 silam.

Awalnya tarian itu dibawa para perantau dari Desa Bugbug, Karangasem. Biasanya Sang Hyang Penyalin akan mesolah pada pecaruan yang diselenggarakan di Desa Pakraman Pancasari pada tilem kanem.

Tilem kanem sengaja dipilih, karena masyarakat setempat meyakini pada momen tersebut akan terjadi peralihan musim. Apabila tak diselenggarakan, bisa memicu wabah penyakit atau gagal panen.

“Ritual ini semacam nyomia kala. Supaya bhuta kala tidak mengganggu kita. Memang pernah tidak dilaksanakan sekitar tahun 2006.

Waktu itu ternak warga banyak yang kena gerubug. Mati tidak jelas. Ada juga yang gagal panen,” kata Perbekel Pancasari Wayan Darsana.

Menampilkan Sang Hyang Penyalin pun tak selalu berhasil. Tari ini pernah diboyong ke ajang Lovina Festival pada 2013 silam. Namun acara itu terpaksa dibatalkan, karena Ida Taksu enggan mesolah. (*)

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP