Senin, 18 Nov 2019
radarbali
icon featured
Features
Mengulik Budidaya Klengkeng dan Jambu Delima

Manfaatkan Lahan Kritis, Gunakan Sistem Cangkok Agar Cepat Berbuah

10 Juli 2019, 04: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

budidaya kekelengkeng, budidaya jambu delima, pensiunan polisi, lahan kritis, sistem cangkok

Gusti Made Suardika, pensiunan polisi asal Desa Penyabangan, Gerokgak, membudidayakan tanaman kelengkeng dan jambu delima madu. (Juliadi/Radar Bali)

Share this      

Pada umumnya aktivitas masyarakat petani di Kecamatan Gerokgak lebih banyak mengembangkan perkebunan tanaman anggur.

Karena anggur dalam setahun dapat berbuah selama tiga kali. Tapi, tidak dengan pensiunan polisi Gusti Made Suardika yang memilih membudidayakan tanaman kelengkeng dan jambu delima madu.

 

JULIADI, Gerokgak

ANGGUR menjadi komoditi utama petani Gerokgak, Buleleng. Mayoritas. Hanya sedikit yang bertani di luar tanaman anggur.

Dan, yang sedikit itu adalah pensiunan polisi bernama Gusti Made Suardika. Pria 61 tahun asal Desa Penyabangan, Gerokgak ini lebih konsentrasi budidaya kelengkeng dan jambu delima madu.

Menurut Gusti Made Suardika, menanam kelengkeng dan jambu delima madu sejatinya melihat kondisi lahan yang ada. Mayoritas wilayah Gerokgak kondisi lahan kering sulit dengan air dan kritis.

Sejatinya lahan kritis sangatlah cocok untuk budidaya tanaman dengan jenis kelengkeng, jambu air, jambu delima madu dan lainnya. Artinya tanaman yang tahan akan kondisi kesulitan air.

“Saya coba kembangkan tanaman kelengkeng dan jambu delima madu di luas lahan sekitar 1,5 hektar. Selama dua tahun berjalan kelengkeng mampu berbuah sebanyak 3 kali.

Jambu delima mandu setahun sekali. Mulai tanam sejak tahun 2014 lalu,” kata Suardika saat ditemui di kebun miliknya.

Menariknya, dari tanaman yang dia kembangkan dilakukan dengan cara sistem mencangkok. Niat awalnya hanya ingin pruning (pemangkasan) dahan-dahan yang menjorok.

“Daripada dahan-dahan itu terbuang percuma, saya coba cangkok. Ternyata tanaman kelengkeng dan jambu delima hasil cangkoklebih cepat berbuah,” jelas Suardika yang mendapat pengetahuan teknik mencangkok dari temannya.

Mencangkok tidaklah sulit, apalagi bila dilakukan di musim hujan. Secara alami cangkok hanya butuh tanah, kompos organik dan serabut kelapa.

Suardika menambahkan, tanaman kelengkeng dan jambu delima yang dia budidaya tidak menggunakan pupuk kimia. Tetapi menggunakan pupuk organik.

Jadi, kalau menggunakan pupuk organik lebih tahan hama dan penyakit. Juga buah dari tanaman yang dihasilkan lebih baik.

“Hasil buah dari tanaman kelengkeng dan jambu masih dipasarkan kepada warga lokal saja dan pasar tradisional yang ada di Gerokgak.

Mengingat hasil buah masih sedikit, belum kami pasarkan ke pasar-pasar modern,” pungkasnya sembari katakan harga buah 1 kilogram kelengkeng berkisar antara Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu. (*)

(rb/jul/mus/JPR)

 TOP