Jumat, 19 Jul 2019
radarbali
icon featured
Dwipa

Jumlah Pendaftar Minim, Sekolah Swasta Terancam Gulung Tikar

11 Juli 2019, 18: 18: 53 WIB | editor : ali mustofa

sistem zonasi, PPDB, tak dapat murid, sekolah swasta, terancam tutup, terancam gulung tikar,

Ilustrasi (Dok. Jawapos.com)

Share this      

NEGARA – Penerapan system zonasi dan optimalisasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk sekolah negeri SMA dan sederajat, membuat sekolah swasta menjerit .

Sejumlah sekolah swasta ini mengeluh dengan minimnya jumlah pendaftar. Bahkan dengan minimnya pendaftar, sejumlah sekolah terancam tutup

Hal ini seperti terungkap sesuai laporan penerimaan siswa untuk swasta, Kamis (11/7) di Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Jembrana.

Sesuai data, dari 12 sekolah swasta, ada enam sekolah melaporkan menerima pendaftar sangat minim.

“Sekolah yang tidak melapor, kami anggap sudah memenuhi jumlah rombel,” jelas I Ketut Udara Narayana, Kamis (11/7).

Total pendaftar dari enam sekolah swasta tersebut, hanya sebanyak 105 pendaftar. Dari enam sekolah tersebut, ada sekolah yang hanya mendapat tiga dan empat orang siswa, terbanyak ada yang menerima 30 pendaftar.

“Mengenai data sekolah yang dibawah standar, pihak sekolah meminta tidak menyampaikan,” ungkap Narayana

Lebih lanjut, minimnya pendaftar ke sekolah swasta ini akibat dari sistem zonasi, terutama optimalisasi PPDB yang dibuka setelah pendaftaran berakhir. Lantaran keputusan optimalisasi yang dikeluarkan melalui surat edaran Gubernur Bali, secara tidak langsung membuka peluang pendaftaran gelombang kedua.

Menurutnya, kuota yang diajukan masing-masing SMA dan SMK Negeri, sudah sesuai dengan kemampuan sekolah. Akan tetapi kenyataannya, muncul gelombang kedua meminta lagi masing-masing satu kelas.

“Ada penambahan, seolah-olah dipaksakan apakah cukup rombelnya untuk masing-masing sekolah negeri,” ujarnya.

Apabila sistem yang saat ini diterapkan, maka nantinya akan ada sekolah yang tidak bisa menerima pendaftaran siswa baru lagi. Sedikitnya dua sekolah yang terancam tidak akan melanjutkan menerima siswa baru karena jumlah siswanya sedikit. “Harapan kami tidak terjadi,” tukas Narayana. 

(rb/bas/pra/mus/JPR)

 TOP