Rabu, 21 Aug 2019
radarbali
icon featured
Sportainment
Tari Gabor Berkumis

Dianggap Pelecehan, Dibia: Kalau Mau Lucu-lucuan, Bikin Tari Kreasi

18 Juli 2019, 01: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

pelecehan seni, prof dibia, tari gabor kumis, tari kreasi

DIKECAM: Penampilan delegasi PDAM Karangasem saat membawakan tarian Gabor Berkumis saat acara HUT Amlapura ke-379 beberapa waktu lalu. (dok. youtube)

Share this      

GIANYAR - Sejumlah praktisi seni Bali memprotes pertunjukan tarian Gabor Berkumis yang dipentaskan saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) kota Amplapura ke-379 baru-baru ini.

Protes dari para praktisi atas tarian yang memiliki nilai adiluhung tersebut diketahui dari unggahan video di kanal youtube dengan akun Pregina Bali.

Dalam video itu, tarian tersebut dipentaskan oleh pegawai PDAM Karangasem.  Sikap para praktisi seni terkait tontonan

yang dianggap melecehkan dan merusak esensi seni budaya tersebut dibalut dalam bentuk diskusi yang digelar di Geoks Art Space, Singapadu Gianyar.

Acara tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Kun Adnyana, Dinas Kebudayaan Kabupaten/Kota Prof Bandem

beserta istri Ni Luh Nesa Swasthi Wijaya Bandem, Listibya Provinsi Bali, Pemilik sanggar tari serta pihak terkait.

Menurut Prof Dibia, pertunjukan Tari Gabor berkumis yang diunggah di akun Youtube akan jadi boomerang bagi seni budaya Bali.

“Pertunjukan itu sudah termasuk merusak seni budaya kita terhadap sebuah karya cipta. Lewat diskusi ini, makanya kami ingin sikapi agar tidak berlarut dan segera bisa dilakukan tindakan,”ucapnya.

Dari pengamatan video yang beredar ada beberapa hal yang merusak tari Gabor Berkumis yang ditampilkan oleh pihak PDAM Karangasem ketika perayaan HUT kota Amlapura beberapa waktu lalu.

Mulai dari penari laki-laki berpakaian dengan riasan wanita muncul tanpa memiliki dasar menari.

“Mereka sengaja membuat gerakan lucu, merubah tata busana, mengganti gelungan, hingga memasukkan aksi-aksi konyol ke dalam sajiannya,” jelasnya.

Menurut Dibia, sah-sah saja jika yang menarikan itu adalah laki-laki atau perempuan. Namun gerak tari dan busana semestinya tidak keluar dari pakem.

“Jika mau lucu-lucuan, sebaiknya ciptakan tari kreasi baru, garapan baru. Jangan merusak karya orang lain yang sudah ada.

Untuk menciptakan satu tarian itu tidak mudah, dengan memperlihatkan tarian yang merusak, itu sama saja tidak menghargai seniman yang menciptakan,” kata seniman asa Singapadu ini.

Rasa kecewa juga diungkapkan pencipta tari Puspanjali dan Sekarjagat, Ni Luh Nesa Swasthi Wijaya Bandem.

Sebagai pelaku seni yang telah menelurkan karya, kondisi tersebut sungguh miris. Ketika gelungan tari Sekar Jagat disalahgunakan untuk tari lain, bahkan hanya untuk sekadar lucu-lucuan.

Menurutnya, orang yang melakukan pelecehan terhadap karya seni untuk kebutuhan melucu sesungguhnya menertawakan dan melecehkan dirinya sendiri.

“Saya misalnya sebagai pencipta tari, untuk menghasilkan satu produk itu tidak mudah. Jadi harus disadari bahwa tarian diciptakan sudah ditentukan gerak,

kostum, iringan dan hal terkait lainnya. Seharusnya ciptaan itu tidak dirusak, ada etika dan moral yang perlu diperhatikan," tegasnya.

Untuk dua tarian ciptaanya ini, kata dia, sudah mendapat hak cipta, termasuk kostum dan gerak. "Jadi bagi mereka yang merusak sudah pasti melanggar hak cipta," imbuhnya. 

 

(rb/zul/mus/JPR)

 TOP