Minggu, 08 Dec 2019
radarbali
icon featured
Features
Derita Nyoman Diarsa, Pengidap Tumor

Tumbuh Tumor di Pipi Kiri, Setiap Malam Merintih Kesakitan

18 Juli 2019, 08: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

nyoman diarsa, pengidap tumor, merintih kesakitan, rsud klungkung

Nyoman Diarsa, 54 warga Banjar Belatung, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan ditemui di kediamannya, Dusun Sukahati, Desa Pesinggan. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)

Share this      

Nyoman Diarsa, 54, warga Banjar Belatung, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, yang tinggal di wilayah Dusun Sukahati, Desa Pesinggan sudah dua tahun lamanya tidak bisa menafkahi keluarganya. Semua gara-gara tumor yang tumbuh di pipi kirinya.

 

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Semarapura

AKHIR tahun 2018 lalu, benjolan berwarna merah seperti jerawat tumbuh di hidung Nyoman Diarsa. Awalnya dia cueki.

Namun, jerawat itu terus membesar sehingga menyebabkan kesemutan yang terus-menerus hingga rasa sakit yang menyiksa di malam hari.

Pandangannya pun terganggu hingga membuatnya tidak bisa bekerja. Saat Jawa Pos Radar Bali datang ke kediamannya, Diarsa terlihat sedang duduk-duduk di halaman rumahnya.

Menurut Nyoman Diarsa, benjolan besar yang letaknya di antara alis kanan dan kiri itu adalah tumor hidup.

Sebelum sebesar sekarang, awalnya tumor itu terlihat seperti jerawat dengan warnanya yang merah.

Hanya saja kian hari, ukurannya kian membesar hingga menghalangi mata kirinya.

“Kalau mau lihat pakai mata kiri, benjolan ini harus diangkat dulu. Awalnya saya bawa ke puskesmas, kemudian ke RSUD Klungkung,” terangnya.

Hanya saja sejak beberapa bulan terakhir ini, tumor tersebut menimbulkan rasa kesemutan. Bahkan saat malam hari, benjolan itu akan menyebabkan rasa sakit yang menyiksa sehingga membuatnya sulit untuk tidur.

Biasanya rasa sakit tidak tertahankan itu akan muncul selama satu jam. Ketika rasa sakit mulai mereda, barulah ia bisa tertidur.

“Sejak sebulan yang lalu, dari bawah benjolan keluar darah. Akhirnya dibawa ke RS Sanglah,” ujarnya.

Adapun oleh pihak RS Sanglah, tumor Diarsa dijadwalkan untuk dioperasi. Hanya saja Diarsa belum tahu kapan ia akan dioperasi. “Katanya nanti akan ditelepon kalau sudah akan dioperasi,” kata ayah tiga orang anak ini.

Salah seorang bidan Puskesmas Dawan 1, Putu Ratna Timor menambahkan setiap tiga hari sekali pihaknya akan berkunjung ke rumah Diarsa untuk membersihkan tumor tersebut.

Itu lantaran tumor Diarsa mengeluarkan darah cukup banyak sehingga membuat takut keluarganya untuk membersihkan sendiri tumor yang ada di antara alis kanan dan kiri Diarsa itu.

“Karena darahnya terus menetes. Tidak ada obat yang diberikan dari RS Sanglah. Ukuran tumornya panjang 8 cm dengan diameter sekitar 4-5 cm,” terangnya.

Ia menambahkan, tumor yang ada saat ini adalah tumor yang kedua kalinya. Sebelumnya, Diarsa memiliki tumor di bagian pipi kiri yang tumbuh di tahun 2015.

Tahun 2017 lalu, akhirnya tumor itu dioperasi di RS Sanglah. “Semua biaya ditanggung JKN-KIS,” jelasnya.

Sementara itu, istri Diarsa, Ni Wayan Suweca mengungkapkan melihat penyakit suaminya itu, ia sempat mengajak Diarsa untuk melakukan pengobatan alternatif.

Ada dua para normal atau balian yang telah ia datangi bersama sang suami. Namun menurut para normal, suaminya secara niskala tidak ada masalah dan hanya diberikan minyak untuk dioleskan pada benjolan.

“Saya kira akan ada kurang apa yang harus dibayar. Tapi katanya tidak ada. Jadi saya tidak lagi ke balian,” terangnya.

Lebih lanjut, sejak dua tahun terakhir menurutnya Diarsa sudah tidak bekerja dan hanya berdiam diri di rumah.

Dengan kondisi tumor yang ada di wajah, sulit bagi Diarsa menyadap nira sebagaimana profesi yang dilakoni saat sehat dulu.

Begitu juga dengan Suweca yang tidak punya pekerjaan berpenghasilan tetap. “Saya hanya memelihara sapi dan itu hanya satu ekor.

Kadang juga buat bahan baku untuk tikar. Sehari-hari mengandalkan dari anak yang buruh di Denpasar,” kata Suweca.

Meski hidup serba kekurangan dan suami dalam kondisi sakit sehingga tidak bisa bekerja, ia mengungkapkan jika keluarganya tidak masuk sebagai keluarga penerima manfaat (KPM).

Sehingga keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan rutin dari pemerintah pusat sebagaimana diterima para KPM di Klungkung.

“Anak dua sudah bekerja sebagai buruh dan sudah berkeluarga. Anak saya yang nomor tiga, baru masuk SMA tahun ini.

Untuk bekal sekolah sehari-hari ini saya cukup pusing. Berharap ada perhatian pemerintah,” tandasnya. (*)

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP