Selasa, 20 Aug 2019
radarbali
icon featured
Features
Tradisi Warga Sebatu, Gianyar Sambut Galungan

Mendahului Pasang Penjor Galungan, Berlangsung Sebelum Era Majapahit

22 Juli 2019, 15: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

warga sebatu, sambut galungan, penjor galungan, era majapahit

SUDAH TERPASANG : Jejeran penjor serempak terpasang di wilayah Desa Pakraman Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, saat difoto kemarin. (Istimewa)

Share this      

Umumnya warga memasang penjor Galungan pada tiga atau sehari menjelang hari raya Galungan. Namun, warga Desa Pakraman Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, punya tradisi berbeda.

Penjor sudah dipasang pada Jumat lalu (19/7) secara serentak di depan rumah. Beda dengan tempat lainnya.

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

SEPERTI dituturkan kelian adat Desa Sebatu, I Wayan Lanus didampingi wakilnya, I Made Kartu Santika, menyatakan pemasangan penjor secara serentak pada Jumat itu.

Pemasangan dilakukan karena bertepatan dengan upacara Nyekes Berata. Maklum, desa ini merupakan desa kuno di Bali.

Jadi, segala aktivitas itu dilakukan sebelum ritual Nyekes Berata. Desa itu tampak sudah semarak dengan deretan penjor yang sudah berjejer indah, di depan rumah.

Terkait upacara agama ini juga ada aturan yang menjadikan beberapa pantangan yang wajib ditaati. Salah satunya adalah tidak boleh menanam.

“Memasang penjor dikategorikan menanam (karena menancapkan bambu ke dalam tanah). Makanya kami memasang penjor Jumat (19/7) mulai pukul 02.00. Karena Sabtu (20/7) sudah mulai rangkaian Ngekes Bherata,” jelasnya.

Lebih jauh dituturkan bahwa  upacara yang berlangsung setiap tahun berlangsung pasca-purnama sasih kasa, panglong menemu kajeng, bertujuan untuk memohon keselamatan bersama seluruh warga desa.

Menurut Santika, tradisi tersebut sudah berlangsung secara turun temurun. Bertahun-tahun. Ini sebuah tradisi yang sangat tua.

Bahkan, sudah ada sebelum era Majapahit masuk ke Bali. Bisa dibayangkan, era kerajaan Majapahit, yang berpusat di Mojokerto, Jatim,  sendiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 Masehi.

“Tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun. Bahkan, sebelum ajaran Hindu zaman Majapahit masuk Bali, warga Desa Sebatu yang masuk salah satu desa kuno di Bali,” jelasnya.

Santika menambahkan, rangkaian Ngekes Bherata yakni Ngadeg, Mesangiang-ngiangan, Nyacahin, Ngebek, Ngusaba Gentuh dan penyepian adat.

Segala rangkaian prosesi itu juga dilaksanakan secara urut, dari generasi ke generasi. “Penyepian tidak boleh membawa barang-barang termasuk

mengendarai sepeda motor dan mobil keluar rumah. Usai itu Ngusaba di Pura Dalem dan ngelebar Bherata,” jelasnya.

Kemudian ada tabuh rah 3 sehet, yang dipusatkan Pura Desa Sebatu. Usai karya Ngekes Bherata aturan desa kembali diberlakukan seperti sediakala.

Yakni warga diperbolehkan lagi menjual hewan ternak peliharaan  mereka. Warga boleh menanam pepohonan, warga baru boleh beraktivitas seperti semula, keluar masuk wilayah Desa Sebatu. (*)

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP