Sabtu, 24 Aug 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Subak di Klungkung Mulai Diarahkan Terapkan Sistem Pertanian Organik

11 Agustus 2019, 11: 49: 08 WIB | editor : ali mustofa

pertanian organik, subak di klungkung, distan klungkung

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengecek lahan pertanian di Bumi Serombotan (Istimewa)

Share this      

SEMARAPURA - Hingga saat ini belum ada kelompok tani atau subak di Kabupaten Klungkung yang telah mendapatkan sertifikasi organik terhadap sistem pertanian yang diterapkan.

Terkait hal itu, Subak Dawan merupakan salah satu subak yang kini dicanangkan sebagai kawasan ramah lingkungan (Wastamangan) menuju pertanian organik dan agrowisata di Kabupaten Klungkung.

Kepala Dinas Pertanian Klungkung Ida Bagus Gede Juanida mengungkapkan, sistem pertanian bebas zat kimia atau organik mampu memberikan hasil pertanian yang berkualitas dan sehat.

Tidak heran jika produk pertanian organik dihargai lebih mahal dibandingkan dengan pertanian dengan menggunakan pupuk dan pembasmi hama yang mengandung zat kimia.

“Untuk itu, Subak Dawan kami canangkan menjadi kawasan pertanian ramah lingkungan menuju pertanian organik.

Di mana segala aktivitas terkait dengan pengelolaan produksi dan aktivitas pertanian dilakukan untuk menuju kepada pembentukan kawasan organik ramah lingkungan,” ujarnya.

Luas lahan pertanian yang dimanfaatkan dalam pilot project atau proyek percontohan ini seluas 50 hektare.

“Terkait sektor pariwisata, pemerintah desa diharapkan mampu memanfaatkan program ini dengan potensi desa yang ada

agar menjadi tempat agrowisata. Sehingga nantinya Subak Dawan menjadi daya tarik tujuan wisata yang berkonsep pertanian,” katanya.

Sementara itu, Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta yang dalam kesempatan itu membuka kegiatan tersebut mengingatkan

agar pencanangan Subak Dawan sebagai kawasan ramah lingkungan (Wastamangan) menuju pertanian organik dan agrowisata tidak hanya menjadi wacana.

Untuk itu, Kadis Pertanian beserta Kabidnya harus mengawal dengan baik pilot project ini. “Dengan luas lahan yang mencapai 50 hektare, konsepnya tidak boleh main-main

karena sangat berimbas kepada para petani itu sendiri. Pertanian ramah lingkungan menuju pertanian organik dan agrowisata dari hulu sampai hilirnya harus tertata dengan rapi.

Serta perencanaan yang matang sesuai potensi yang ada. Pertanian sangat bisa dikolaborasikan dengan pariwisata,” tandasnya. 

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP