Rabu, 18 Sep 2019
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

50 Perupa Muda Nasional Gelar Pameran Kilat Darurat

24 Agustus 2019, 02: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

50 perupa, seniman muda, pameran kilat darurat, kementerian pendidikan

Direktur Kesenian, Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Restu Gunawan, M.Hum, (tengah) saat menggelar jumpa pers di Kubu Kopi (Marcel Pampurs/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR - Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar kegiatan Apresiasi Perupa Muda Indonesia. 

Program ini memberikan kesempatan dan membidik Generasi Z berusia 15 hingga 25 tahun Indonesia sebagai 'cikal bakal' perupa masa depan,

untuk ikut berkontribusi bagi Indonesia melalui perwujudan gagasan, saran, kritik, dan ekspresi dalam bentuk karya seni rupa. 

Mengusung tema Utusan Sosial; Kilat Darurat, pameran ini akan dilaksanakan pada tanggal 23 hingg 30 Agustus 2019 di Bentara Budaya Bali. 

Direktur Kesenian, Direktorat Kesenian, Dr Restu Gunawan MHum, menyatakan bahwa karya seni rupa, para generasi Z nilai-nilai yang tinggi solidaritas serta toleransi dan penghormatan pada keberagaman. 

"Selain itu kegiatan ini sebagai upaya pengembangan bakat dan minat sekaligus menumbuhkan atmosfer yang produktifbagi pergaulan kreatif yang sehat dan inovatif," kata Dr Restu Gunawan, Jumat (23/8).

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Dra. Susiyanti, MM, selaku Kepala Subdirektorat Seni Rupa Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyampaikan bahwa pameran ini melibatkan 50 perupa muda terpilih yang lolos seleksi dari total 267 pendaftar melalui open call. 

"Bukan hanya dari pusat-pusat kesenian seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Bali, melainkan juga dari seluruh Indonesia, semisal Aceh Singkil,

Lampung, Bengkulu, Medan, Palembang, Pariaman, Payakumbuh, Surakafta, Jombang, Banten, Gresik, Makassar, Gorontalo, Balikpapan, Pontianak, Tuban, Sulawesi Tengah,

Salatiga, Pemalang, Ngawi, Pasuruan, Sidoarjo, Klaten, Cilacap, Lamongan, Jepara, Muara Enim, Rembang, Pati, Sragen, Palu, Pamekasan, Kampar, dan lain-lain," jelasnya.

Nantinya isu sosial yang dikritisi oleh para perupa muda ini merujuk pada situasi masa kini yang ditandai adanya eskalasi konflik sebagai akibat hadirnya media internet.

Di mana ruang pribadi dan ruang publik seakan tak Iagi berbatas dipenuhi limbah komunikasi medsos yang penuh ujaran kebencian, hoax dan cyberbullying serta pelanggaran privasi lainnya.

Karya para perupa ini tidak semata menyoal berbagai hal yang terkait dampak negatif digitalisasi atau kemajuan teknologi informasi yang niscaya tak sepenuhnya membawa berkah atau kebaikan.

Melainkan tak sedikit dari mereka yang meraih kesadaran bahwa generasi muda dapat berperan sebagai pembawa pesan yang kritis, konstruktif, kreatif, dan positif.

"Peran pembawa pesan ini mengemuka baik secara simbolis maupun harfiah dengan siratan pesan perihal pentingnya menyadari bahwa masyarakat Indonesia adalah majemuk atau pluralis.

Keberagaman akar leluhur dan budaya menjadi kekayaan memori kultural yang terbukti berbeda pula," tandasnya.

(rb/mar/mus/JPR)

 TOP