Minggu, 26 Jan 2020
radarbali
icon featured
Radar Buleleng

Tekan Sampah Pembalut, Needle N Bitch Promo Pembalut Ramah Lingkungan

28 Agustus 2019, 23: 30: 59 WIB | editor : ali mustofa

tekan sampah pembalut, needle n bitch, pembalut ramah lingkungan

Komunitas Needle N Bitch menggelar workshop terkait pembuatan pembalut dari kain saat Summer Festival 2.0 di Celukan Bawang, Singaraja (Wayan Widyantara/Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA – Pada umumnya saat perempuan sedang mengalami menstruasi, biasanya menggunakan pembalut yang sekali pakai untuk menampung darah menstruasinya.

Namun jauh sebelum itu semua, sudah ada pembalut dari kain. Bak ditelan zaman, para perempuan kini lebih memilih menggunakan pembalut sekali pakai.

Rata-rata alasannya tentu lebih praktis. Lalu apakah pembalut sekali pakai yang mudah dibeli di toko-toko maupun di warung tersebut aman untuk digunakan?

Dalam acara Summer Festival 2.0 di Celukan Bawang, Singaraja pada 23-25 Agustus 2019, sebuah komunitas perempuan yang lahir di Bantul,

DI Yogyakarta menamakan dirinya Needle N Bitch menggelar sebuah workshop terkait pembuatan pembalut dari kain.

Sejumlah perempuan pun terlihat duduk melingkar dibawah pohon kelapa. Mereka terlihat sibuk memotong sejumlah kain dan kemudian dijahit dengan membentuk pola seperti pembalut biasanya.

“Ini kami sedang membuat pembalut kain yang bisa dipakai ulang, dalam upaya mengurangi sampah plastik. Karena di pembalut sekali pakai itu ada sampah plastik dan menghasilkan sampah dalam jumlah yang banyak,” ujar Pramila Deva

Selain sebagai upaya mengurangi sampah plastik, pembalut kain yang bisa digunakan berkali – kali ini juga dikatakan lebih aman bagi kesehatan reproduksi perempuan.

“Kalau pembalut sekali pakai dari plastik itu ada zat dari hasil pembentukan pemutihan. Kan dibuat dari bahan-bahan bekas seperti kertas pop gitu yang didalamnya mengandung dioksin sebenernya,” ujarnya.

Nah, dioksin ini saat dipakai saat mentruasi terkena darah itu bisa terbawa ke aliran darah, atau system reproduksi bisa terpapar dioksin dan dioksin ini sebagai pemicu kanker.

“Jadi sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kanker servik dan lainnya,” sambung perempuan asal Jogja berumur 31 tahun.

Sedangkan untuk pembalut dari kain yang bisa digunakan berkali-kali ini terbuat dari bahan yang relatif aman karena tidak mengandung zat kimia.

Pembalut ini menggunakan katun bambu organik, handuk dan bahan yang mudah didapat serta aman. Cara pemakaiannya, ketika dipakai dan sudah penuh kemudian dicuci dan bisa dipakai kembali.

Dalam penggunaannya juga cukup lama, Deva sendiri menggunakannya sudah lima tahun, yang penting cara menggunakan dan merawatnya secara benar.

Pihaknya tidak menyarankan mencuci pembalut kain dengan deterjen pada umumnya. Lebih disarankan menggunakan deterjen yang organik dan dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga residu dalam deterjen tidak tertinggal dalam kain.

Yang juga penting dijemur menggunakan sinar matahari agar bakterinya mati. Poinnya bagaimana menjaga pembalut kain ini bersih.

Jika pembalut yang setengah kering atau lembab dapat mengundang pertumbuhan bakteri atau jamur yang justru dapat membahayakan bagi kesehatan vagina.

Ide pembuatan pembalut dari ini muncul ada anggota komunitas mengalami infeksi kantong kemih karena menggunakan pembalut sekali pakai yang mengandung plastik. Saat itu sekitar tahun 2013.

“Dari situ ada pengalaman, ternyata produk yang dijual dipasaran itu tidak aman di kita. Dari pengalaman itu, kami cari-cari info terkait pembalut sekali pakai dan ternyata lebih berbahaya,” ujarnya.

Cara pembuatnya juga sejatinya tidak susah. Bentuknya sama seperti pembalut sekali pakai, hanya bedanya adalah dari bahan dan menggunakan perekatnya.

Bahan-bahan yang digunakan antaranya kain bambu, handuk, waterproof untuk nahan cairan, benang, gunting dan kancing sebagai perekat. Pembalut kain ini pun mudah kita dapatkan dengan cara beli online. 

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP