Rabu, 16 Oct 2019
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

Pelaku Spiritual Kumpul di Bali, Tampilkan Aura Mistis Calonarang

29 Agustus 2019, 00: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

pelaku spiritual, aura mistis calonarang, fkppai bali

Pertunjukan calonarang di gedung Komunitas Peduli Umat (KPU) Bali, di Jalan Padang Damai, Dalung, Badung, Selasa (27/8) malam (Marcel Pampurs/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR - Pertunjukan seni lintas daerah berlangsung seru di gedung Komunitas Peduli Umat (KPU) Bali, di Jalan Padang Damai, Dalung, Badung, Selasa (27/8) malam.

Acara ini dihadiri ratusan pencinta budaya nusantara yang datang dari berbagai daerah, suku dan etnis berkumpul dan saling menampilkan kesenian daerah masing-masing.

Kegiatan juga dihadiri olej sejumlah sulinggih (pendeta Hindu) dan beberapa tokoh masyarakat Bali hingga paguyuban spiritual di Bali.

Salah satu yang paling menarik perhatian penonton adalah pertunjukan Calonarang yang penuh dengan aura mistis yang ditampilkan oleh anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Bahkan, usai pementasan tersebut, penari yang masih SD tersebut langsung kerauhan. Bali yang diwakili DPD Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI) tampil tak kalah menarik.

Calonarang ini disuguhkan dengan konsep telek. Ada juga kesenian usada dan juga tarian baris. Tidak hanya itu, ada juga penampilan peserta asal Jawa Timur yang menampilkan ilmu kanuragan.

Peserta Jawa Barat menampilkan debus, beradu dengan ular berbisa hingga uji kekebalan. Ketua Seksi Acara Master Made Bayu Giantara yang akrab disapa Bayu Gendeng menjelaskan,

kolaborasi seni lintas daerah itu dihelat untuk memaknai hari ulang tahun kedua DPD FKPPAI Bali sekaligus pelantikan pengurus baru periode 2019-2024.

Ia mengatakan pentas ini dibuat untuk menjalin dan merawat toleransi sesama pecinta seni, budaya dan spiritual yang ada di Bali.

"Calonarang ini bertema keragaman budaya spiritual, dimana beberapa kesenian daerah dapat dikolaborasi dengan apik," ujarnya.

Pesulap asal Klungkung ini menjelaskan, Bali sejatinya memiliki literatur yang komplit untuk urusan budaya,

mulai dari kesenian yang beragam tradisi yang unik hingga literatur kanuragan bahkan tingkat tinggi, yang disebut ilmu kawisesan.

Kata dia, ilmu tersebut masih ada dan dapat dipelajari untuk kebutuhan pengendalian diri. "Bali juga memiliki literatur pengobatan tradisional yang disebut dengan usada dan literatur ramal yang disebut tebing," tandasnya.

(rb/mar/mus/JPR)

 TOP