Minggu, 15 Dec 2019
radarbali
icon featured
Radar Jembrana

Miris, Rumput Mengering, Satwa TNBB Makan Sampah Plastik

03 September 2019, 13: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

satwa langka, hutan bali barat, sampah plastik, rumput mengering, taman nasional

Seekor rusa dan sekumpulan monyet mengais makanan dari sampah plastik di pinggir Jalan Denpasar-Gilimanuk kawasan Cekik, kemarin. (M.Basir/Radar Bali)

Share this      

NEGARA - Sampah di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dikhawatirkan bakal merusak ekosistem, terutama sampah plastik yang cukup banyak.

Bahkan, satwa yang hidup di TNBB tertangkap kamera makan sampah plastik, terutama di pinggir Jalan Denpasar-Gilimanuk kawasan Cekik.

Satwa – satwa itu mencari sampah plastik yang dibuang oleh pengendara. Pantauan Jawa Pos Radar Bali, satwa yang turun dan menunggu makanan yang dilempar pengendara tidak hanya monyet, tetapi satwa lain seperti rusa.

Seekor rusa bersama sekelompok monyet mengais makanan diantara sampah plastik di pinggir jalan. Karena sudah terbiasa dengan kehadiran manusia, rusa dan monyet tidak lari meski didekati.

Mirisnya, sampah yang ikut termakan sampah plastik. Kasubag Tata Usaha TNBB Gebyar Andyono mengakui, bahwa mengatasi sampah yang berada di pinggir jalan sangat sulit.

Sampah plastik tersebut dari pengendara yang melintas, tidak hanya membuang sampah juga memberi makan pada satwa liar.

"Susahnya agar pelintas tidak membuang sampah dan memberikan makan kepada satwa. Sudah dihimbau, tetapi tetap tidak dipatuhi," ungkap Gebyar Andyono.

Satwa yang ada di dalam kawasan TNBB pada musim kemarau ini banyak yang keluar untuk mencari makan.

Sehingga, karena keterbatasan makanan karena musim kemarau ini apa saja dimakan. "Kita memasok air di beberapa tempat dan fokus ke curik bali, ada pakan tambahan," ujarnya.

Dampak satwa makan sampah plastik selama ini belum terlihat. Tetapi suatu saat akan berdampak karena  sampah terutama sampah plastik tidak bisa dicerna oleh tubuh satwa.

Dalam jangka panjang kemungkinan berdampak pada kesehatan satwa yang dapat menurun, bahkan berakibat kematian.

Mengenai sampah, pihaknya sudah melakukan upaya maksimal membersihkan. Terutama di pinggir jalan dan pantai, tetapi upaya yang dilakukan tidak sebanding dengan ulah oknum masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

"Kita sudah semaksimal mungkin membersihkan, tetapi memang seperti kejar-kejaran yang tidak berujung. Begitu dibersihkan, besok sudah kotor lagi," terangnya.

Berdasar hasil dari pembersihan yang digelar rutin setiap bulan, jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan dari bulan Januari hingga bulan Juli lalu sebanyak 51.393 kg atau 51 ton lebih.

Sampah tersebut mulai dari tekstil, styrofoam, kaca, plastik dan jenis sampah lainnya. Sampah terbanyak merupakan sampah plastik dengan total 6.764 kg.

Jumlah tersebut hampir menyamai hasil tahun 2018 sebelumnya dalam satu tahun sebanyak 7.314 kg sampah dan terbanyak sampah plastik. 

(rb/bas/mus/JPR)

 TOP