Rabu, 16 Oct 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Kabar Duka, Setahun Berjuang Lawan Kanker, Istri Demer Meninggal Dunia

17 September 2019, 06: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

kabar duka, kanker rektum, istri demer, meninggal dunia, golkar bali

Plt Ketua DPD I Golkar Bali Gde Sumarjaya Linggih alias Demer mendoakan mendiang istrinya di rumah duka, kemarin. (Made Dwija Putra/Radar Bali)

Share this      

MANGUPURA  - Kabar duka datang dari Plt Ketua DPD I Golkar Bali Gde Sumarjaya Linggih alias Demer. Istri Demer yang bernama Ayu Onik Mindawati, 48, berpulang Senin  (16/9) kemarin sekitar pukul 03.00 Wita.

Mendiang  mengembuskan napas terakhir di Bali Royal Hospital atau yang dikenal RS Bros Denpasar setelah setahun berjuang melawan kanker rektum stadium IV.

Demer mengatakan, istrinya yang akrab dipanggil  Onik Linggih diketahui menderita kanker rektum stadium IV setahun lalu.

Almarhum sempat dilarikan ke Singapura untuk menjalani pengobatan. “Dari sana dibilang kemungkinan survivenya 20 persen,” jelas Demer yang ditemui di rumah duka, Jalan Tunjung I Nomor 11, Banjar Pengipian, Kerobokan Kuta Utara, kemarin.

Sang istri kemudian diajak untuk berobat, baik di Jakarta, Singapura, hingga ke Guangzhou, Tiongkok. Berbagai cara pengobatan pun ditempuh, baik kemoterapi maupun radiasi.

Bahkan, almarhum sempat bolak-balik Indonesia-Singapura. Sayangnya, sempat 1,5 bulan di Singapura, dokter angkat tangan.

“Kanker ada tiga cara pengobatannya, pertama kemo, kedua operasi, ketiga radiasi. Nah, ketiga-tiganya sudah tidak memungkinkan, karena sudah menyebar kemana-mana,” ujarnya.

Akhirnya Demer diberikan pilihan untuk pain management, di Singapura atau di Bali. Sebab, sakitnya sudah tak bisa ditangani.

Sang istri memilih untuk dirawat di Bali tepatnya di RS Bros. Hampir tiga minggu menjalani pain management, akhirnya wanita asal Budakeling, Karangasem tersebut menutup mata untuk selamanya.

Mengenai prosesi ritual, Demer menerangkan, karena  di desa asalnya, yakni Tajun, Buleleng masih ada upacara agama hingga 14 Oktober, pihak keluarga sepakat prosesi pangabenan diadakan setelah upacara tersebut selesai.

Untuk sementara, pada 23 September mendatang, diadakan upacara makingsan di geni. Yakni jenazah almarhumah akan kremasi. “Setelah selesai upacara di kampung, baru diadakan proses lebih lanjut,” pungkasnya.

(rb/dwi/mus/JPR)

 TOP