Rabu, 16 Oct 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Viral Warga Asing di Bali Turun ke Jalan Suarakan Krisis Iklim

22 September 2019, 18: 36: 59 WIB | editor : ali mustofa

viral warga asing, turun ke jalan, suarakan krisis iklim, greenpeace indonesia

Sejumlah warga asing di Canggu, Kuta Utara, Badung, turun ke jalan menyuarakan bahaya krisis iklim yang mengancam dunia (Istimewa)

Share this      

MANGUPURA – Sejumlah Warga Negara Asing (WNA) di wilayah Canggu, Bali terlihat membawa sebuah poster terkait urgensi untuk bertindak mengatasi krisis iklim yang semakin hebat.

Aksi tersebut direkam oleh sebuah video berdurasi 1 menit 9 detik yang viral di media sosial beberapa hari ini.

Terkait persoalan krisis iklim ini, berdasar rilis yang diterima radarbali.id menyebutkan, setahun sejak Greta Thunberg, remaja berusia 15 tahun duduk di luar Parlemen Swedia,

dan menolak untuk pergi ke sekolah sampai para anggota parlemen tersebut sadar akan urgensi untuk bertindak mengatasi krisis iklim yang semakin hebat.

Sejak saat itu Greta menginspirasi gerakan global besar-besaran. Jutaan siswa dari seluruh penjuru dunia keluar dari sekolah mereka setiap hari Jumat, memanggil para pemimpin dunia, dan hari ini 150 negara mengikuti aksi ini dan diikuti jutaan orang.

Aksi ini ditengarai sebagai aksi terbesar yang pernah dilaksanakan di dunia untuk mengatasi krisis iklim.

Di Jakarta, pawai iklim ini diikuti oleh lebih dari 50 komunitas dan jaringan yang menyuarakan pentingnya penanganan serius krisis iklim demi masa depan generasi mendatang.

Aksi damai ini dipimpin oleh anak-anak muda yang memiliki kekhawatiran yang sama dengan Greta. Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan dengan perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, Indonesia rentan mengalami dampak kenaikan tinggi muka air laut.

Hal ini juga akan berdampak terhadap penghidupan warga Indonesia, di antaranya puluhan juta petani. Belum lagi kondisi yang rapuh ini diperparah dengan laju deforestasi dan kebakaran hutan tidak terkontrol yang menimbulkan bencana asap hebat, penggunaan energi batu bara berlebih yang meracuni udara, tanah dan laut kita.

“Ini adalah alarm bagi kita semua untuk bangkit dan saatnya untuk pukul mundur krisis iklim,” ujar Satrio Swandiko, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Indonesia sendiri telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca nasionalnya sebesar 29 - 41% pada tahun 2030.

Sebagaimana dinyatakan dalam NDC (2015), emisi Indonesia (63%) adalah hasil dari kebakaran hutan dan gambut, dengan pembakaran bahan bakar fosil menyumbang sekitar 19% dari total emisi

Kontribusi Indonesia dalam mengekang emisi dan mempertahankan bumi tidak memanas lebih dari 1,5 derajat sangat penting.

Karenanya, krisis iklim harus ditangani sebagai program prioritas presiden terpilih. Para peserta aksi ini mengusung tuntutan umum sebagai berikut;

Pemerintah mendengarkan para ilmuwan dan menyatakan darurat iklim; Pemerintah meningkatkan ambisi penurunan gas emisi rumah kaca semaksimal mungkin dan melaksanakannya dengan tegas, konsisten, dan segera

Aksi Jeda untuk Iklim ini tak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga di 18 kota lainnya, yaitu Aceh, Samosir, Bengkulu, Pekanbaru,

Palembang, Bandung, Cirebon, Cilegon, Garut, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bali, Palangkaraya, Palu dan Kupang.

Secara global, aksi mogok untuk iklim ini berlangsung di 150 negara dan diikuti jutaan orang. 

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP