Rabu, 16 Oct 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Era Ekonomi Kolaborasi

06 Oktober 2019, 03: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

ekonomi kolaborasi, rio christian, hotel hilton, bpr kas indonesia

Founder BPR KAS Indonesia Rio Christian (dok.radarbali)

Share this      

PERKEMBANGAN pesat dunia digital beberapa tahun terakhir, memberi seseorang sudut pandang baru dalam membangun usaha.

Dulu untuk membangun usaha dan mengembangkannya, hal utama adalah menguasai sumber daya dan memiliki modal uang besar.

Semakin besar seseorang menguasai sumber daya, semakin mudah dia berekspansi dan menguasai pasar. Saat ini kondisinya tidaklah sama.

Sebagai contoh dalam bisnis akomodasi pariwisata, jaringan hotel Hilton yang berdiri dari tahun 1919, dengan seluruh sumber daya yang dimilikinya, saat ini hanya memiliki 715.000 kamar, tersebar di seluruh dunia.

Airbnb yang lahir tahun 2008, tidak butuh sumber daya besar, saat ini memiliki 7 juta kamar tersebar diseluruh dunia.

Saya kebetulan mempercayakan beberapa unit kamar pada airbnb untuk dikelolanya. Kenapa airbnb tidak membutuhkan waktu lama seperti hotel hilton, untuk bertumbuh dari jumlah kamar yang dikelola?

Karena Airbnb berhasil mengoptimalkan era ekonomi kolaborasi untuk “mengakuisisi” dan mengelola 7 juta kamar tersebut.

Era ekonomi kolaborasi adalah era dimana market terbentuk oleh individu yang saling mengandalkan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya.

Cara kerja market di era ekonomi kolaborasi adalah perantara dengan kompensasi komisi/fee,

memfasilitiasi pertemuan antar individu yang membutuhkan produk/layanan dengan cara transaksi bertukar, meminjam, memperdagangkan dan menyewakan.

Era ekonomi kolaborasi, peran perantara sangatlah vital. Perantara yang dapat menciptakan bisnis model yang efektif memfasilitasi

antar individu untuk memenuhi keinginan atau kebutuhannya, maka perantara tersebut, usahanya akan bertumbuh cepat dengan skala sangat besar.

Era ekonomi kolaborasi, menghilangkan batasan atau hambatan untuk seseorang masuk ke segala jenis bisnis.

Sebetulnya kondisi tersebut, memberi peluang bagi generasi milenial mengembangkan idenya dan menjadi pengusaha.

Memiliki modal penting, namun bukanlah hal yang paling utama, pada era ekonomi kolaborasi.

Seperti yang disampaikan Prof. Rhenald Kasali, “tidak perlu modal besar untuk membuat dampak besar”.

Yang paling utama, generasi milenial menemukan suatu ide cemerlang yang tertuang menjadi bisnis model

efektif serta dipadu dengan teknologi digital, guna memfasilitasi antar invididu yang membutuhkan.

Era ekonomi kolaborasi, peran teknologi digital dan internet sangat vital. Berbagai aplikasi lahir di era ini.

Aplikasi adalah media efektif menghubungkan antar individu yang saling membutuhkan untuk bertransaksi.

Saat ini, sebuah perusahaan tidak akan berkembang secara skala, jika tidak memanfaatkan teknologi digital dan internet.

Dalam ekosistem industri keuangan yang saya geluti, bank umum berlomba-lomba membangun teknologi

digitalnya serta berkolaborasi dengan berbagai perusahaan fintech untuk memuaskan nasabahnya.

Kemudian dalam ekosistem ini juga, lahir pemain baru dengan teknologi digital, yang berpotensi menjadi kompetitor sengit BPR di masa depan, yaitu perusahaan peer to peer lending (P2P).

Nah bagaimana masa depan BPR di era ekonomi kolaborasi? Saya percaya BPR yang akan bertahan dan bertumbuh,

adalah BPR yang mau membuka diri untuk berkolaborasi dengan pihak ketiga, serius mengevaluasi bisnis

modelnya untuk selalu relevan dengan perkembangan, serta mulai bergerak memanfaatkan teknologi digital. Salam Perjuangan! (rba)

(rb/mus/mus/JPR)

 TOP