Rabu, 16 Oct 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Rektor Ngurah Rai Ingin Abadikan Wirata Sindhu Jadi Nama Auditorium

08 Oktober 2019, 08: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

kanker usus, mantan bupati buleleng, meninggal dunia, kabar duka, universitas ngurah rai, wirata sindhu, nama auditorium

Ni Luh Nyoman Masmi, istri Wirata Sindhu saat mendampingi jenazah almarhum di rumah duka Kertha Semadi, Senin (7/10) malam. (Wayan Widyantara/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR – Perjalanan karir Bupati Buleleng tahun 1993-2002 Drs I Ketut Wirata Sindhu memang cukup panjang. 

Pria yang mengembuskan nafas terakhirnya di usia 77 tahun karena melawan sakit kanker usus ini sempat memegang sejumlah jabatan penting.

Wirata menjalani karirnya sebagai Kakanwil Penerangan Kabupaten Badung sekitar tahun 1975. Bahkan, selama sembilan tahun lamanya. Selanjutnya, karirnya mengalami peningkatan.

Karena kemampuannya, Wirata dipercaya sebagai Kakanwil Penerangan Provinsi Bali. Yang juga tak kalah prestasinya,

pria asal Banjar Tengah, Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Buleleng itu juga mendirikan Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar tahun 1978.

Rektor UNR Dr Drs Nyoman Sura Adi Tanaya saat ditemui rumah duka Kertha Semadi tak bisa menahan tetesan air matanya.

Terlalu banyak kenangan yang dilewatinya bersama dengan Wirata Sindhu. “Saya sangat terkejut. Bapak telah meninggalkan kita.

Pak Wirata adalah salah satu kokoh pendidikan yang sangat tangguh dan berjuang keras untuk menciptakan sebuah pendidikan tinggi di Bali,” ujar Dr Nyoman Sura Adi Tanaya.

Pada tahun 1978 saja, Wirata telah berpikir bahwa Bali butuh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk mengatasi persoalan pembangunan yang ada di Bali.

Akhirnya Wirata pun mengumpulkan sejumlah orang untuk membangun kampus swasta yang diberi nama Universitas Ngurah Rai (UNR) dan hingga kini masih berdiri.

Lalu ada penghargaan nanti untuk Pak Wirata? “Ya, nantinya dan itu harus, apakah nanti nama beliau dipakai nama ruangan atau dipakai nama Auditorium dan sebagainya. Karena tanpa beliau, kita tak punya arti apa-apa,” jawabnya.

“Seluruh mahasiswa Universitas Ngurah Rai, seluruh dosen dan pegawai merasa kehilangan. Karena beliau tidak pernah marah yang terlalu keterlaluan. Selalu sikapnya itu membina dan mengajari serta memotiviasi,” tutupnya. 

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP