Rabu, 16 Oct 2019
radarbali
icon featured
Features
Mengulik Rekam Jejak Musik Rock di Kuta

Berawal dari Kayu Api, Jadi Persinggahan Mick Jagger Hingga Gombloh

09 Oktober 2019, 00: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

jejak musik rock, musik rock di bali, kayu api, mick jagger, gombloh, bali rock community

TETAP EKSIS : Band Magic Mushroom, salah satu band rock yang dinahkodai Manto saat tampil di Santa FE Bar, Seminyak beberapa waktu lalu (Alit Binawan/Radar Bali)

Share this      

Perjalanan musik rock di Bali merasuk cukup lama. Denpasar sebagai ibu kota cukup banyak memiliki band-band rock di awal tahun 80-an awal.

Sebut saja misalnya Crystal Rock yang digawangi Oka Orpicka cs. Namun, musik ini belum begitu merambah hingga menyeluruh, salah satu contoh Kuta sebagai pusat pariwisata.

Musik rock di Kuta baru menggeliat di tahun 1983, berawal dari kemunculan band bernama Primitive Rhythm yang dimotori musisi rock senior Sukamanto atau yang akrab disapa Manto.

 

ZULFIKA RAHMAN, Kuta

ALKISAH dahulu kala sebelum internet sepenuhnya mengatrol peradaban manusia dan hidup berlangsung lebih santai, berdirilah sebuah bar rock n roll bernama Kayu Api yang berada di Jalan Raya Legian, Kuta.

Bar ini menjadi pusat lebur kultural bagi mereka para pendamba kebebasan, dan hentakan musik rock di era tahun 70-an.

Kala itu, kondisi Kuta belum disesaki oleh kemunculan bar atau kafe dan tempat hiburan lainnya. Kayu Api menjadi pioneer,

yang menyajikan jam session musik rock seperti ACDC, Led Zeppelin, Sex Pistol, Black Sabbath, Rolling Stones, dan beberapa band rock dunia lainnya.

Kayu Api yang kini sudah berganti menjadi hotel Grandmas itu menjelma menjadi tempat nongkrong orang-orang  yang mencari sesendok atau dua kesenangan dalam hantaman miras dan genangan musik keras kala itu.

Perlahan, bar ini menyedot perhatian musisi-musisi dunia untuk sekadar singgah menikmati suasana berbeda di tengah minimnya tempat hiburan di Kuta kala itu.

Nama-nama musisi tersohor yang pernah singgah dan bermain di tempat itu seperti Mick Jagger, Steward Copeland, Ment At Work, Australian Crowl hingga musisi legenda kenamaan Indonesia Gombloh.

“Kayu Api menjadi tempat nongkrong yang asyik saat itu,” kenang Manto, gitaris Harley Angels ketika ditemui di Santa FE Bar kawasan Seminyak.

Tempat ini benar-benar memberi ruang bagi musisi rock di Kuta. Sebut saja Primitive Rhythm band Manto pertama kali yang terbentuk di tahun 1983 silam.

Dari keseringannya mengumandangkan musik-musik rock, salah satu produser musik rock kenamaan Log Zhelebour yang kala itu tengah nongkrong menghampiri Manto dan kawan-kawan.

“Diajak ikut festival musik rock Indonesia pertama kali di tahun 1984 di Surabaya, akhirnya kami mengiyakan dengan

menyandang nama Harley Angels, kami memenangkan festival itu,” kata pria asal Magelang  yang kini genap berusia 66 tahun ini.

Dari festival itu juga, gaung Bali dari skena musik rock di kancah nasional mulai terlihat. Tawaran panggung dari beberapa kota di luar Bali pasca memenangi festival tersebut mulai menghampiri.

Tawaran panggung seperti Banyuwangi, Malang, Jember, Surabaya, Jogjakarta hingga Bandung mereka libas.

Band ini sendiri diperkuat Bambang (vokal), Manto (gitar), Putu Indrawan (bass), Dodot (keyboard) dan Nyoman Kabe (drum).

Namun, sayang kiprah band ini terhenti dan tanpa pernah memiliki karya rilisan fisik. “Kita band ngamen, tidak seperti band lainnya,

ketika menang festival lalu rekaman. Kami tidak tertarik, pokoknya ngamen aja, besok bisa makan asyik,” kelakarnya.

Namun, dari kemenangan festival itu memicu anak muda di Bali untuk bermain rock, dan kafe atau bar di Kuta mulai menyajikan live musik rock sebagai hiburan musik mereka.

“Musik rock jadi menjamur, di Denpasar juga demikian. Sebelum musik rock, rata-rata musisi di Kuta memainkan lagu-lagu ballads, country, kebanyakan gitar bolong,” terang musisi yang pertama kali datang ke Bali di tahun 1978 ini.

Cerita itu juga dibenarkan oleh Bambang Srihandoko, musisi rock yang juga cukup lama berada di jalur rock. Pria yang akrab disapa Mas Benk ini pernah mengisi vokal di band rock kenamaan Indonesia, Jet Liar.

Ia baru berlabuh ke Bali dari Jakarta tahun 1988 silam. Kala itu ia melihat perkembangan skena musik rock di Kuta sudah menjamur hingga puncak kejayaan di era tahun 1990-an.

“Mulai meredup tahun 2000-an. Beruntung saat ini minat muda banyak yang memainkan musik rock. Karena pada dasarnya itu seperti siklus kehidupan, akan kembali ke yang lama,” tandasnya. (*)

(rb/zul/mus/JPR)

 TOP