Kamis, 21 Nov 2019
radarbali
icon featured
Politika
Soal Lima Program Prioritas Jokowi-Ma’ruf

Sudirta Ajak Rakyat Mendukung karena Sejalan dengan Ajaran Bung Karno

21 Oktober 2019, 17: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

program prioritas jokowi, pelantikan presiden, pembangunan SDM, Wayan Sudirta, ajaran bung karno, character Building, kabinet jokowi, kabinet jilid II

AJAK RAKYAT MENDUKUNG : Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali I Wayan Sudirta SH (kiri) saat mendapat ucapan selamat dari Presiden RI Joko Widodo usai pelantikan beberapa waktu lalu (Istimewa)

Share this      

DENPASAR-Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan I Wayan Sudirta SH mengatakan,

sejumlah poin wacana program prioritas yang disampaikan Presiden RI Ir Joko Widodo (Jokowi) untuk mewujudkan mimpi bersama agar Indonesia lepas dari jebakan pendapatan kelas menengah dinilai sebagai sebuah cita-cita logis.

Bahkan tak hanya menilai logis, dengan lima program prioritas yang disampaikan Presiden dalam pidatonya usai pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, pada sidang Paripurna MPR RI, Minggu (20/10),  

program prioritas jokowi, pelantikan presiden, pembangunan SDM, Wayan Sudirta, ajaran bung karno, character Building, kabinet jokowi, kabinet jilid II

AKRAB : I Wayan Sudirta saat bersalaman dengan Presiden RI Joko Widodo (Istimewa)

anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Bali ini juga menilai jika wacana yang disampaikan Presiden itu menunjukkan bahwa Jokowi paham dan sejalan dengan ajaran Proklamator RI Bung Karno

Disebutkan mantan anggota DPD RI ini, lima poin besar dalam pidato presiden itu, yakni pertama pembangunan SDM; kedua melanjutkan pembangunan infrastruktur; menyederhanakan kendala regulasi; penyederhanaan birokrasi secara besar-besaran untuk mendorong investasi; dan kelima transformasi ekonomi.

Dari lima poin program  prioritas, pengacara senior asal Bali ini fokus menyoroti pembangunan SDM.

Kata Sudirta, langkah Jokowi untuk memperkuat pembangunan SDM dinilai sangat tepat.

Menurutnya, jika pemerintahan ini ingin bekerja secara mendasar dan berjangka panjang, maka harus memprioritaskan SDM.

“Pembangunan SDM itu ada dua, yakni pendidikan dan gizi. Sistem pendidikan harus mendasar dan bermuara pada kejujuran, disiplin dan kerja keras.

Karakter inilah yang harus ditanamkan sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Tapi sebelum sampai pada system pendidikan, maka juga perlu dipersiapkan gizi,”tegas Sudirta saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Bali, Senin (21/10).

Ketersediaan gizi itu yakni tersedianya gizi bagi ibu hamil dan anak-anak sekolah.

 “Dan Bung Karno dulu melakukan ini. Jika bangsa-bangsa lain yang kini maju menanamkan dua  dari tiga criteria seperti Jepang, Korea dan China yang menanamkan pembangunan karakter SDM berdasar pada disiplin dan kerja keras.

Denmark, Malaysia dan Philipina yang pembangunan karakternya berdasarkan kejujuran dan kedisiplinan. Maka Bung Karnodulu menamkan pembangunan mental dan  character Building,”tegasnya 

Sehingga lanjut Sudirta, dengan pembangunan karakter, bangsa Indonesia akan mampu mengejar “ketertinggalan”, karena selama ini, prioritas pembangunan bukan terfokus pada pembangunan SDM melainkan lebih pada sumber daya alam (SDA).

“Padahal jika prioritasnya sumber daya alam, maka ini akan habis karena SDA terbatas.

Nah yang saya lihat Presiden Jokowi memahami betul ajaran Bung Karno, bahwa bangsa ini harus berdasar pada tiga hal itu yakni kejujuran, disiplin, dan kerja keras yang selama ini sempat dilupakan,”imbuhnya.

Menurut Sudirta, jika berkaca pada ajaran Bung Karno, Presiden RI pertama itu pernah menyekolahkan dan menyeleksi putra-putri terbaik bangsa.

“Tujuannya ketika itu, yakni agar putra-putri terbaik bangsa ini bisa menghadapi investor dan melindungi kepentingan bangsa.,”tegasnya

Untuk itu, dengan wacana pembangunan SDM yang berdasar pada ajaran Bung Karno, Sudirta mengajak kepada seluruh rakyat untuk mendukung pemerintah Jokowi.

Pasalnya dengan dukungan kuat rakyat Indonesia, maka ia optimistis program prioritas yang disampaikan Jokowi bisa benar-benar terwujud untuk mewujudkan Indonesia menjadi Negara maju di 2045.  

 “Dengan demikian dana pendidikan nantinya tidak hanya dibagi-bagi ke sejumlah departemen (17 departemen), melainkan dana pendidikan bisa difokuskan pada masalah kesejahteraan dan nasib guru, rekrutmen guru dan tenaga pengajar, dana riset serta beasiswa.

Intinya bahwa kunci sebuah keunggulan bangsa yang berjangka panjang adalah ada pada SDM,”tukas Sudirta.

(rb/pra/mus/JPR)

 TOP