Kamis, 21 Nov 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Faber Castell Ajak Indonesia Lawan Industri China Lewat Kreativitas

27 Oktober 2019, 02: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

faber castell international, lawan industri china, kreativitas pendidikan

Managing Director PT Faber-Castell International Indonesia, Yandramin Halim. (Kadek Surya Kencana/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR - Pendidikan seni sama pentingnya dengan ilmu pasti alias eksata. Keyakinan inilah yang mendorong Faber-Castell berkomitmen untuk tumbuh bersama masyarakat Indonesia.

Managing Director PT Faber-Castell International Indonesia, Yandramin Halim menyebut bermodal sebatang pensil pihaknya siap mengubah masa depan anak-anak Indonesia.

“Menggali kreativitas anak Indonesia lewat seni lukis dan gambar adalah cara paling mudah dan murah. Ini merupakan hal dasar yang sering

dilupakan banyak orang,” ucapnya ditemui langsung dalam acara ngopi bareng di Hotel Ramada Jalan Sunset Road, Denpasar.

Halim mengaku memiliki 150 pegawai khusus di seluruh wilayah Indonesia yang bertugas bergerak ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan seni melukis.

“Faber Castell sejauh ini juga sudah melatih 5.000 orang guru dari Sabang sampai Merauke sejak tahun 2000. Yang kami berikan saat pelatihan tersebut adalah

produk-produk terbaik,” ucapnya sembari berkata produk Faber Castell telah diekspor ke-40 negara, antara lain Jerman, Italia, Skandinavia, Amerika, Jepang, dan Tiongkok.

“Kita kini banyak ekspor ke China. Orang-orang yang sudah punya duit di China mau anaknya mendapatkan pensil yang lebih baik. Mereka beli dari Faber Castell karena di sana produknya kurang bagus,” tandas Halim.

Menariknya, Halim menekankan industri Indonesia mustahil bisa bersaing dengan Tiongkok. Berkaca pada pengalaman membuat mesin

produksi pensil, dirinya menyebut Industri di Indonesia tidak ditunjang oleh keberadaan spare part seperti baut, mur, dan sejenisnya.

“Kalau di China atau Taiwan sangat mudah. Mau buat apa gampang karena spare part lengkap. Taiwan tidak punya produk mobil tapi kita beli spare part dari sana.

Infrastruktur negara tersebut sangat mumpuni. Kalau kita mau bersaing dengan mereka, khususnya di era digitalisasi kuncinya adalah kreativitas,” tegasnya.

Halim menekankan kemampuan nonakademik, khususnya seni terbukti banyak mengantarkan orang ke gerbang kesuksesan karena mampu berpikir dengan cara berbeda.

Terangnya, sukses tak harus dicapai hanya lewat jalur pendidikan formal.  “Kekuatan bangsa kita ada pada kreativitas. Bangsa ini tak boleh jadi follower (pengikut, red).

Akan sangat sulit kita jadi bangsa nomor 1 bila hanya jadi bangsa pengikut. Melukis dan menggambar adalah salah satu cara melatih kreativitas,” tandasnya.

Dalam perkembangannya, Halim menyebut seni melukis dan mewarnai kini menjadi trend sebagai sarana relaksasi dan menghilangkan stres.

“Di Singapura dan beberapa RS di Jakarta kami bekerja sama  membantu anak-anak dengan penderita kanker. Kami ajak mereka mewarnai dan menggambar dengan pilihan warna ceria.

Kami berdiskusi dan mereka mengaku sangat gembira. Itu memberikan efek positif dan motivasi bagi mereka untuk sembuh.

Hal sederhana ini yang dilupakan banyak orang,” ucapnya sembari berkata di abad digital masyarakat sangat membutuhkan pensil warna agar tidak stres dan menderita gangguan kejiwaan.

(rb/ken/mus/JPR)

 TOP