Kamis, 21 Nov 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Nilai Jual Menjanjikan, Petani Buleleng Didorong Tanam Cabai Rawit

06 November 2019, 01: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

nilai jual menjanjikan, petani buleleng, cabai rawit, distan buleleng

Lahan cabai di Desa Kalisada, Buleleng (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA  – Petani di kawasan Buleleng Barat kini didorong mengembangkan komoditas cabai rawit. 

Komoditas ini memiliki nilai jual yang cukup menjanjikan. Kondisi lahan di wilayah Buleleng Barat pun dianggap cocok untuk media tanam cabai rawit.

Tahun ini, Dinas Pertanian Buleleng mengembangkan lahan percontohan cabai rawit seluas 50 hektare. 

Lahan percontohan itu tersebar di Desa Patas, Desa Tukadsumaga, dan Desa Pengulon di Kecamatan Gerokgak, serta Desa Kalisada di Kecamatan Seririt.

Di Desa Patas, lahan yang dikembangkan mencapai 20 hektare yang tersebar di Subak Abian Abdi Pertiwi, Subak Abian Sidi Karya, Subak Abian Giri Asih Lestari, dan Subak Abian Pengodaran. 

Sementara di Desa Tukadsumaga, dikembangkan di Subak Abian Laba Karya. Di Desa Pengulon dikembangkan di Subak Abian Merta Sari. 

Serta di Desa Kalisasada dikembangkan di Subak Kalisada. Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Buleleng I Gede Subudi mengatakan, komoditas cabai rawit cukup menjanjikan, terutama di wilayah Buleleng Barat. 

“Biasanya bulan Desember sampai Januari petani di Desa Sumberklampok, Pejarakan, Sumberkima, dan Pemuteran itu mulai menanam cabai. Sekarang kami coba di sekitar Patas sampai Kalisada,” kata Subudi.

Menurutnya, komoditas cabai rawit merah Buleleng sangat menjanjikan. Buktinya pada 2017 lalu, cabai rawit merah Buleleng berhasil duduk di posisi runner up pada Pekan Nasional Petani dan Nelayan di Aceh, pada 2017 silam. 

Cabai rawit Buleleng hanya kalah dengan cabai keriting Aceh. Dengan luasan tanam hingga satu hektare, Subudi memprediksi produksi cabai rawit merah berkisar antara 5-7 ton.

Biasanya setelah cabai berusia 4 bulan, sudah siap dipanen. Masa panen pun bisa berlangsung selama dua bulan, dengan enam kali masa panen.

“Kami sedang coba mengatur pola tanam, supaya sepanjang tahun bisa panen cabai. Sehingga tidak ada lonjakan harga pada bulan-bulan tertentu, seperti beberapa tahun lalu,” tukasnya.

Sekadar diketahui, hingga September 2019, luas tanam cabai rawit di Buleleng mencapai 346 hektare. Sementara produksi cabai sudah mencapai angka 13.479 hektare.

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP