Kamis, 21 Nov 2019
radarbali
icon featured
Events

Sabet 10 Emas 15 Perak,BIS Terbaik di Global World Scholars Cup Manila

08 November 2019, 15: 33: 03 WIB | editor : ali mustofa

10 medali emas, 10 medali perak, global world scholars cup, bali island school

I Kadek Calum Evan Leys, dkk, peraih medali emas Global World Scholars Cup di Manila 2019 (Kadek Surya Kencana/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR - Pernah nonton aksi bule Jerman, Jack Hayton menyanyikan lagu Bali berjudul Curik-Curik atau Barong Bangkung yang dipopulerkan Lolot Band?

Tentu Anda penasaran bukan di mana pemuda ganteng yang tergabung dalam tim basket Kota Denpasar itu bersekolah selama tingga di Bali.

Jack, ternyata satu almamater dengan Gary Bencheghib. Bule Prancis yang membersihkan sampah Sungai Citarum menggunakan perahu yang terbuat dari 300 botol plastik dari

Majalaya hingga Bekasi selama dua minggu dan mengabadikannya dalam film berjudul The Most Polluted River in The World on Plastic Bottles Kayaks itu merupakan lulusan Bali Island School (BIS).

Bukan hanya alumni BIS yang membanggakan. Baru-baru ini, para siswa sekolah yang beralamat di Jalan Danau Buyan No. 15, Sanur Kaja, Denpasar Selatan itu kembali memetik prestasi di tangkat internasional.

Mereka menjadi yang terbaik dalam Putaran Global World Scholars Cup di Manila, Filipina 2019. Mengirimkan 12 siswa untuk lomba debat dan Challenge Round, BIS meraih total 10 emas dan 15 medali perak.

Prestasi mereka jauh di atas rata-rata dan mendapatkan 11 medali dalam bidang penulisan dan 5 dalam debat.

Tiga siswa BIS bahkan memenuhi syarat untuk mengikuti Turnamen Juara World Scholars Cup di Universitas Yale, AS.

“Debat saya dapat medali emas. Di penulisan juga dapat medali emas. Tim saya juga mendapatkan predikat terbaik di lomba debat dan penulisan.

Seluruhnya saya mendapat 6 medali,” ucap I Kadek Calum Evan Leys ditemui beberapa waktu lalu di BIS bersama siswa lain bernama Ashleigh Kneipp.

Kepada Jawa Pos Radar Bali keduanya mengaku sangat menyukai topik sejarah, baik sejarah dunia maupun mengkhusus pada sejarah Indonesia.

“Topiknya adalah bagaimana bila sejarah bisa diubah. Apa yang ingin diubah? Saya memilih topik Timor-Timur. Saya menjelaskan apa yang terjadi di sana dan menjelaskan apa yang akan saya ubah.

Saya ingin mengubah agar Timor-Timur bisa merayakan hari kemerdekaan lebih awal. Tidak di 2002, tapi di 1975 saat pisah dari koloni Portugis,” tegasnya. (rba)

(rb/ken/mus/JPR)

 TOP