Rabu, 11 Dec 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Mendesain Kegesitan

11 November 2019, 16: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

mendesain kegesitan, rio christian, bpr kas indonesia

Direktur Utama PT BPR KAS Indonesia Rio Christian (Istimewa)

Share this      

JUMAT kemarin, BPR KAS mengadakan acara gathering bersama stakeholder industri BPR. 

Konsep gathering adalah diskusi sambil ngopi, makanya kami namakan acaranya “Ngopi Seru”. 

Topik yang dibahas, “kolaborasi fintech P2P dan BPR, bisakah?” Topik ini sengaja kami angkat untuk memberikan insight kepada para pemimpin BPR, 

seperti apa landscape industri keuangan, khususnya dalam kegiatan usaha simpan-pinjam.

Dalam diskusi yang menarik tersebut, benang merah yang saya dapat bagi pengembangan industri BPR adalah, 

lembaga BPR harus menjadi lembaga keuangan yang gesit, sehingga dapat bertahan dan bertumbuh, hari ini dan di masa depan.

Dua tahun terakhir, secara subjektif saya merasa “iri” akan kondisi di Industri BPR, jika dibandingkan kondisi para pemain baru dengan baju peer to peer lending (P2P).

Kita BPR dalam menjalankan kegiatan bisnis, seluruh ruang geraknya terasa sempit, akibat banyaknya aturan OJK dan setingkat diatasnya berupa UU Perbankan dan UU BI yang harus dipatuhi. 

Sedangkan P2P ruang geraknya luas dan hanya tunduk pada satu aturan yaitu POJK 77 tahun 2016. 

Atas kondisi tersebut, apakah kita menyerah?? Apakah kita akan protes ke regulator??? Kalau saya dan BPR KAS tentu tidak akan menyerah. 

Kami pun tidak akan protes ke regulator.hehehe… Terus apa dong yang harus dilakukan? 

Bergerak gesit dalam ruang sempit, itu yang akan saya dan BPR KAS lakukan, demi pertumbuhan di masa depan.

Bergerak gesit, butuh perencanaan dan di desain. Menurut David Butler & Linda Tischler, Komponen yang harus disatukan dalam desain kegesitan adalah :

1. Lebih Cerdas

Sebuah organisasi bisnis tidak boleh berpuas diri cara hari ini yang membuatnya berhasil, karena mungkin besok cara tersebut usang dan tidak relevan, jadi organisasi harus secara cerdas memikirkan cara-cara lain ke depannya.

Organisasi bisnis pun harus terus merancang produk, sistem operasional dan relasi sesuai perkembangan dan kondisi yang terus berubah, sehingga organisasi kita terus relevan.

Dalam hal menghadapi masalah/kegagalan, tidak bisa berfikir satu jawaban sebagai solusi, namun harus cerdas menciptakan berbagai jawaban sebagai solusi.

2. Lebih Cepat

Kecepatan menjadi pembeda hari ini, ditengah perubahan yang terjadi terus menerus. Organisasi bisnis, harus cepat merealisasikan ide dalam perencanaan matang, kemudian di eksekusi.

Apabila terjadi kegagalan dalam hasil eksekusi, organisasi bisnis harus cepat mengkoreksi, untuk selanjutnya bergerak lebih cepat. Untuk meminimalisir dampak buruk sebuah keputusan yang diambil cepat, lakukanlah test-test kecil. Kecepatan tidak harus mengorbankan segalanya.

3. Lebih Ramping

Organisasi bisnis yang ramping akan menunjang kegesitan. Organisasi bisnis yang ramping, efektif menghemat biaya serta menghemat waktu dalam proses bisnis bertumbuh.

Yang dimaksud dengan ramping, bukan dimulai fokus pada mengurangi jumlah orang/tenaga kerja, melainkan dimulai dari bagaimana merampingkan sistem/proses kerja, bagaimana menciptakan produk secara efektif, dan bagaimana menciptakan pola pemasaran produk secara efektif.

Dapat pencerahan?? Bagi yang bisnisnya sudah berjalan lama, serta tidak mengalami kemajuan, belum terlambat koq untuk bisa menjadi organisasi bisnis yang gesit. 

Dimulailah dari kita sendiri sebagai pemimpin usaha atau bisnis owner memiliki mindset gesit. Mau berubah?? Salam Perjuangan. (rba)

(rb/mus/mus/JPR)

 TOP