Senin, 16 Dec 2019
radarbali
icon featured
Dwipa
Efek Tak Selesainya Masalah Sampah TPA Suwung

Koster Marah, Sindir Kepala Daerah Hobi Ngelencer Cari Penghargaan

11 November 2019, 17: 29: 54 WIB | editor : ali mustofa

Sampah TPA Suwung, Gubernur Bali, Gubernur Koster, Sidang Paripurna, DPRD Bali, sindir kepala daerah, ngelencer cari penghargaan, sampah menggunung,

Gubernur Bali Wayan Koster (Ni Kadek Novi Febriani)

Share this      

DENPASAR-Berlarutnya persoalan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung membuat Gubernur Bali Wayan Koster berang alias marah.

Bahkan atas kekecewaannya terhadap penanganan sampah yang menggunung dan tak kunjung selesai, Koster pun menumpahkan kekesalannya di sidang paipurna DPRD Bali.

Tak tanggung-tanggung, dihadapan para anggota dan pimpinan DPRD Bali serta undangan, Koster pun langsung menyampaikan keluhannya dengan menyalahkan pejabat sebelumnya yang salah memilih dan menempatkan TPA di Suwung.

"Kalau boleh saya berkeluh bahwa pemilihan TPA Suwung salah, kenapa sampah dibawa ke kota harusnya dibawa ke pinggir," tegas Koster.

Nasi sudah jadi bubur dan menurut Koster pemerintah tidak bisa tinggal diam.   Tidak bisa menghindari lagi dan harus diteruskan. Sampah juga harus dikelola. Dalam kondisi itu Pemprov Bali memberi bantuan dua alat berat exavator dan bulldozer.

Kemudian Pemprov juga  meminta bantuan supaya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dan disetujui.  

 "Saya minta menteri PUPR dua alat berat satu excavator dan satu bulldozer. Disetujui akhir tahun ini langsung diberikan lagi dua. Sehingga disana menjadi empat sampai enam alat berat.

Kurang baik apalagi Provinsi walau nggak pernah buang sampah disana," ujar Gubernur asal Sembiran, Buleleng ini. 

Selanjutnya, masih saat sidang berlangsung, yakni tepatnya saat sesi menyampaikan jawaban pandangan fraksi, Koster kembali membuat pernyataan mengejutkan terkait penanganan sampah. 

Bahkan tanpa jelas kepada kepala daerah mana yang dimaksud Koster, namun politisi PDI Perjuangan ini menyindir kepala daerah yang sibuk wara-wiri alias ngelencer mencari penghargaan.

“Mari sikapkan pikiran jernih dan komitmen kuat. Tidak lagi berwacana. Tidak  perlu kita wara wiri cari penghargaan kesana kemari. Aduh. Cari penghargaan terus tapi masalah besar di depan mata tidak selesai.

Untuk apa? Maaf ya kalau saya mau begitu setiap bulan dapat penghargaan. Nggak ada artinya. Yang buat saya perbuataan bisa sampai ke masyarakat. Saya nggak butuh penghargaan begitu untuk apa," sindirnya. 

Atas pernyataan dengan nada menyindir itu, Koster yang dikonfirmasi usai sidang paripurna mengaku bahwa sindiran itu bukan untuk Pemerintah  Kota Denpasar semata. 

Melainkan, aku Koster, ucapan sindirran saat penyampaian jawaban pandangan Fraksi itu ditujukan bagi semua kepala daerah " Oh itu buat semuanya. Saya tidak suka itu," jawabnya.  

Sementara itu, sesuai jawaban Gubernur Bali terhadap pandangan fraksi, penyumbang sampah terbesar yakni Kodya Denpasar dengan jumlah 815 Ton per hari. Kabupaten Badung sebanyak 127 Ton per hari.

Gianyar sebanyak 85 Ton per hari dan sudah berhenti sejak tahun 2018. Serta Kabupaten Tabanan sebanyak  4 Ton per hari dan juga sudah berhenti sejak tahun 2018.

(rb/feb/pra/mus/JPR)

 TOP