Rabu, 11 Dec 2019
radarbali
icon featured
Politika
Soal Wacana Sulap Bali Ramah Wisman Muslim

Tak Kuat Cacian dan Protes Netizen, Ini Jawaban Menparekraf Wisnuthama

13 November 2019, 23: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

Menparekraf RI, Menteri Pariwisata, Wisnuthama, Ramah wisman Muslim, Pariwisata Bali, banjir cacian,

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wisnuthama Kusubandio (Dok. Jawapos.com)

Share this      

DENPASAR-Usai membuat gaduh dan menuai protes dari para tokoh, politisi pengamat, dan netizen, atas beredarnya pemberitaan di media berjudul “Wisnuthama dan Angela Bakal Sulap Toba dan Bali Ramah Wisman Muslim”.

Belakangan beredar pernyataan atau klarifikasi dengan mengatasnamakan Menteri Pariwisata dan ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI dan Kepala Badan (Kabaparekraf)Wisnuthama Kusubandio.

Berikut pernyataan klarifikasi dari Menteri penggati Arief Yahya itu :

Terkait beredarnya pemberitaan di media yang berjudul *Wishnutama dan Angela Bakal Sulap Toba dan Bali Ramah Wisman Muslim*,

dengan ini kami sampaikan bahwa kami *tidak pernah* mengeluarkan wacana wisata halal di Toba dan Bali dan  mengeluarkan pernyataan sebagaimana yang diberitakan oleh sebuah media nasional, akan  “menyulap” Toba dan Bali sebagai destinasi wisata Ramah Wisman Muslim.

Kami juga menyesalkan jika pemberitaan mengenai hal tersebut telah mengundang polemik dikalangan masyarakat termasuk para pelaku industri dan insan pariwisata di tanah air. 

Persepsi yang muncul atas pemberitaan tersebut juga sangat bertolak belakang dengan pandangan  dan komitmen kami dalam menghargai budaya, kearifan lokal dan  keberagaman.

Untuk itu pula kami memohon maaf atas ketidak nyamanan yang mungkin di timbulkan dan terima kasih kepada pihak media yang telah mengklarifikasi hal tersebut.

Kami juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan respon dan tanggapan, hal ini menjadi gambaran utuh bahwa pariwisata adalah bagian dan milik seluruh elemen bangsa.

Pariwisata kita terbangun atas kearifan masyarakat dan budaya lokal pada tiap destinasinya, sehingga menjadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan.

Ada keramah-tamahan khas yang dirasakan para wisatawan dengan berbagai latar kultur dan agama. 

Selama ini kami sangat  meyakini bahwa budaya, kearifan lokal, dan kekayaan alam harus kita jaga, pelihara, dan kelola dengan baik agar pariwisata Indonesia selalu menciptakan daya tarik bagi wisatawan dan mendatangkan kesejahteraan rakyat.

Pariwisata juga merupakan aktivitas universal, sehingga seluruh tempat wisata di Indonesia terbuka bagi seluruh wisatawan, apapun latar belakang agama, kepercayaan, dan kewarganegaraannya.

Fokus kami ke depan adalah mengembangkan destinasi wisata sesuai dengan kearifan budaya lokal sehingga pariwisata kita berdiri kokoh di atas fondasi kebudayaan.

Kami menjunjung tinggi dan sangat meyakini, bahwa kekayaan alam dan budaya nusantara yang kita miliki justru merupakan aset dan modal terbesar dalam mengembangkan sektor pariwisata sekaligus sebagai daya tarik pariwisata di masing-masing destinasi.

Kami selalu bangga dan mengagumi Bali sebagai sebuah role model pariwisata berbasis budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaaan dan toleransi sekaligus sebuah destinasi yang mampu merefleksikan harmoni dalam keberagaman.

Demikian pula Toba sebagai destinasi wisata alam dengan kekayaan kultural yang amat tinggi dari masyarakatnya.

Kami berharap sinergi dan kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan terkait pariwisata dapat terus dikuatkan demi pariwisata yang maju dan menyejahterakan masyarakat. Demikian, terima kasih.

Jakarta, 13 November 2019

*Wishnutama Kusubandio*

Menparekraf/Kabaparekraf

(rb/pra/mus/JPR)

 TOP