Minggu, 26 Jan 2020
radarbali
icon featured
Radar Jembrana

Miris, Pembalakan Liar Marak, Pelaku Santai Saja Angkut Kayu Ilegal

16 Desember 2019, 09: 26: 27 WIB | editor : ali mustofa

miris, pembalakan liar, pembalakan liar marak, pelaku santai, angkut kayu ilegal, kayu ilegal, hutan bali barat

Pelaku pembalakan liar difoto warga membawa kayu dari dalam hutan di Jalan Denpasar -Gilimanuk kemarin. (Istimewa)

Share this      

NEGARA – Pembalakan liar di hutan Bali Barat disayangkan warga penyanding. Pasalnya, pelaku pembalakan semakin terbuka membawa kayu hasil pembalakan dari dalam hutan.

Dengan santai mereka membawa kayu curian dan melaju melalui jalan nasional Denpasar – Gilimanuk. Karena itu, warga meminta pihak terkait menindak tegas pelaku agar hutan tetap terjaga.

Pembalakan liar kayu hutan tersebut sering dipergoki warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan, baik dari Dusun Klatakan maupun Dusun Sumbersari, Desa Melaya, Kecamatan Melaya.

Para pelaku sering lalu lalang keluar dari hutan dan lalu lalang di jalan membawa kayu hasil pembalakan liar.

“Saya heran, pelaku dengan santainya membawa kayu dari hutan di jalur ramai Denpasar- Gilimanuk. Kayu dibawa dengan motor hanya ditutupi karung,” kata Ketut Subanda, kepada Jawa Pos Radar Bali kemarin.

Menurut warga Dusun Sumbersari, Desa Melaya, ini, pembalakan liar di kawasan hutan Bali Barat sudah mengkhawatirkan.

Terutama di kawasan hutan yang dikelola UPT. KPH Bali Barat, Dinas Kehutanan Provinsi Bali. Para pelaku pembalakan liar membabat kayu sonokeling untuk diperjualbelikan karena memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.

Selama ini, lanjutnya, setiap ada pembalakan liar di kawasan hutan yang dituduh adalah warga Dusun Sumbersari dan Dusun Klatakan.

Padahal, tidak semua pelaku merupakan warga dari dua dusun tersebut. Selama ini, pelaku yang sering dipergoki warga dari wilayah Buleleng.

“Saya akui ada orang dari Melaya yang juga jadi pelaku, tapi hanya satu dua orang saja. Pelaku yang banyak dari luar Jembrana,” ungkapnya.

Sedangkan dampaknya, warga dua dusun yang paling parah terdampak. Setiap musim hujan, dusun Sumbersari langganan banjir.

Padahal sebelumnya, saat hutan masih banyak kayu-kayu yang besar, belum pernah ada banjir seperti yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

“Saat ini secara jumlah, pelaku pembalakan liar memang semakin menurun, karena kayunya juga semakin sedikit. Kami berharap, pembalakan liar ini segera bisa dicegah,” tegasnya.

(rb/bas/mus/JPR)

 TOP