Kamis, 27 Feb 2020
radarbali
icon featured
Travelling

Parah! Anggota DPR Ungkap Ada Tiket Siluman di Objek Wisata Ceking

28 Desember 2019, 13: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

parah, anggota dpr, dpr ri, nyoman parta, tiket siluman, objek wisata ceking

Para pelaku usaha di Ceking dikumpulkan oleh Anggota DPR RI, Nyoman Parta terkait penataan objek wisata Ceking. (Istimewa)

Share this      

GIANYAR – Objek wisata Ceking di Desa/Kecamatan Tegalalang yang pengelolaannya kian semrawut mendapat perhatian anggota DPR RI Nyoman Parta.

Dewan asal Desa Guwang, Kecamatan Sukawati itu melihat ada donasi sampai 4 kali dalam satu areal. Itu di luar pembelian tiket. Jadi semacam ada tiket siluman.

Parta datang ke Ceking kemarin. “Hasil pertemuan sama dengan pengelola, pedagang dan pihak desa, penataan Ceking tidak bisa ditunda,” ujarnya.

Kata Parta, banyak keluhan masuk ke Ceking. Mulai masalah pembangunan yang tak terkontrol, parkir hingga kebersihan.

“Juga donasi sampai 4 titik. Membuat banyak  pengunjung mengeluh. Juga masyarakat umum yang melewati Ceking mengeluh karena kemacetan,” jelas politisi PDIP itu.

Parta memperoleh informasi jika donasi itu dipungut oleh beberapa pihak di areal Ceking. “Baru masuk kena donasi.

Ketika pengunjung hendak menjajal terasering, kembali kena donasi. Bahkan sampai ke seberang sungai kena donasi lagi sampai 4 kali,” imbuhnya.

Parta pun mendapat masukan dari guide mengenai tiket siluman itu. “Ada yang minta sebaiknya harga tiket dinaikkan. Sehingga tidak ada lagi donasi di dalamnya,” paparnya.

Apabila semua pengusaha di Ceking berjalan sendiri, bahkan sampai membuat donasi tersendiri, akan membuat citra buruk bagi dunia wisata.

“Kalau semua jalan sendiri. Ceking akan tinggal kenangan,” jelasnya. Dia pun meminta semuanya ikut berangkulan membangun Ceking.

“Pemilik tanah view, pemilik kontrakan, semuanya harus bekerja sama menatakelola. Termasuk pengenaan tiket satu pintu,” pintanya.

Kedatangan Parta kemarin, untuk menyatukan persepsi para pelaku wisata dan pengelola di objek wisata Ceking.

“Yang penting ada kesepakatan ditata. Bentuk penataannya bagaimana tentu harus duduk semua pihak. Dari Pemkab, pedagang sampai pemilik tanah,” terangnya.

Parta mengaku, Ceking kini punya saingan. Pesaingnya dikelola pengusaha. Jangan sampai, Ceking ditinggalkan begitu saja.

“Dunia pariwisata adalah dunia pertunjukan. Oleh karena itu pemerintah harus hadir untuk merekayasa. Lengkapi dengan fasilitas pendukung apa yang di perlukan,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, bupati Gianyar, Made Mahayastra, menantang Bendesa yang mengelola Ceking berbenah. Desakan bupati itu disanggupi oleh Bendesa. 

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP