Rabu, 22 Jan 2020
radarbali
icon featured
Radar Jembrana

Abrasi Pantai Pebuahan Meluas, Rumah Rusak Terus Bertambah

13 Januari 2020, 13: 10: 42 WIB | editor : ali mustofa

abrasi meluas, pantai pebuahan, rumah rusak, bpbd jembrana

Rumah rusak akibat abrasi pantai Pebuahan. Kerusakan bertambah usai Purnama Jumat lalu. (M.Basir/Radar Bali)

Share this      

NEGARA – Abrasi pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, semakin parah dalam dua hari terakhir. Bulan purnama yang terjadi pada Jumat (10/1) malam lalu, membuat air laut pasang hingga mengikis daratan hingga beberapa meter.

Karena itu, rumah warga yang rusak akibat abrasi terus bertambah. Menurut informasi, air laut pasang saat purnama cukup tinggi hingga beberapa meter.

Beruntung, angin saat air laut pasang dari sebelum purnama hingga kemarin tidak disertai angin kencang sehingga ombak yang datang tidak terlalu besar.

“Untungnya ombak tidak besar. Kalau besar bisa semakin parah,” kata warga Pantai Pebuahan. Meski laut pasang tidak disertai angin kencang, tingginya air laut mengikis daratan cukup parah.

Bahkan, akibat gempuran gelombang tersebut membuat daratan semakin terkikis habis. Dampaknya, rumah warga yang berada

di pinggir pantai banyak rusak, dari awal air laut naik dan ombak besar rumah dan tempat usaha warga semakin banyak rusak.

Seperti rumah Jufri, salah satu warga yang berada di pantai Pebuahan yang dibongkar karena terdampak abrasi.

Bibir pantai dengan rumahnya hanya kurang dari satu meter karena daratan terkikis habis. “Kalau tidak dibongkar bisa rusak tambah parah,” ungkapnya.

Pria yang berprofesi sebagai nelayan itu terpaksa mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman. “Ini sudah kedua kalinya. Rumah sebelumnya lebih parah, pindah ke sini kena lagi,” terangnya.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, jumlah rumah yang rusak karena abrasi sejak beberapa hari terakhir mencapai 9 rumah.

Dari jumlah tersebut tiga unit rumah terparah, sehingga sisa dari bangunan dibongkar pemiliknya. Total kerugian warga yang terdampak tersebut berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 180 juta.

Namun jumlah tersebut terus bertambah karena laut masih pasang dan ombak berpotensi masih besar.

Kalau sekarang sudah lebih sembilan, rumah saya baru didata sehingga saat ini sudah ada belasan rumah yang rusak, baik sedang dan berat. 

(rb/bas/mus/JPR)

 TOP