Rabu, 22 Jan 2020
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal

Hi...Cekcok dengan Pacar, Kirim Pesan Minta Mayat di Bawa ke Singaraja

15 Januari 2020, 10: 17: 50 WIB | editor : ali mustofa

cekcok dengan pacar, kirim pesan minta mayat, kasus bunuh diri, polres gianyar

Korban meninggal kirim pesan kepada sang pacar agar jasadnya dibawa ke Singaraja (Istimewa)

Share this      

GIANYAR – Usai cekcok dengan pacar, seorang janda berstatus pegawai Tata Usaha (TU) SD swasta, Ni Ketut ES, 31, ditemukan gantung diri Senin malam (13/1) lalu.

Korban asal Seririt, Buleleng itu ditemukan tewas di  ventilasi kamar kos di Banjar Pengambangan, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati.

Berdasar informasi, Senin (13/1) sore sekitar pukul 15.08 saksi yang merupakan pacar korban sempat dichat via Whatsapp (WA).

Pacar korban diketahui berjualan di pasar. Dalam chat tersebut, hanya tertulis, “Nanti tolong mayat saya bawa ke Singaraja”. Pacar korban sempat membalas untuk tidak bicara seperti itu.

Antara korban dan saksi itu pun sebelumnya tidak ada masalah sama sekali. Karena dianggap bercanda, sehingga saksi tidak menghiraukan chat korban.

Kemudian, sekitar pukul 19.30 saksi chat balik ke korban, namun hanya centang satu di aplikasi WA. Pacarnya sempat menelpon korban. Tetapi tidak ada jawaban.

Merasa curiga, pacarnya cepat-cepat pulang ke kos. Setibanya di kos, pacarnya langsung membuka pintu kamar karena tidak terkunci.

Melihat isi kamar kosong, kemudian ia mencari pacarnya tersebut ke kamar mandi, saat itu ditemukan korban

sudah dalam kondisi tergantung menggunakan selendang warna kuning yang diikat di pentilasi kamar mandi. 

Kanitreskrim Polsek Sukawati Iptu Gusti Ngurah Jaya Winangun membenarkan kasus gantung diri tersebut.

Dia menjelaskan saksi (pacar korban) sempat melarikan korban ke UGD RS Premagana Batubulan.

Pada saat tiba di RS Premagana korban dalam keadaan muka sudah membiru, tangan dan ujung jari sudah dalam keadaan kaku bahkan berbau pising. 

“Sempat tim medis melakukan pacu jantung sebanyak satu kali karena korban sudah tidak bernafas. Selanjutnya selama di RS Premagana dilakukan observasi selama dua jam, dan akan dilakukan pengembangan,” ujar Winangun.

Sementara itu, pemilik kos, Dewa Gede Surabawa menjelaskan korban bersama pacarnya tersebut mulai kos di sana sejak satu bulan lalu.

Pemilik kos mengaku tidak tahu menahu terkait masalah yang dialami korban. Apalagi pemilik kos tinggal terpisah dengan penghuni kos.

“Baru satu bulan mereka kos di sana. Saya juga kaget mendapat kabar seperti itu karena saya tinggal jauh dari kos-kosan. Di sini ada 10 kamar.Pasca kejadian ini kami akan lakukan upacara pecaruan,” bebernya. 

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP