alexametrics
Sabtu, 11 Apr 2020
radarbali
Home > Radar Buleleng
icon featured
Radar Buleleng

Hutan di Bukit Sanghyang yang Dibabat untuk Bangun Pura Capai 1 Ha

Bupati Agus Minta Cek Peta Wilayah

24 Januari 2020, 04: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

hutan dibabat, satu hektare, bukit sanghyang, cek peta wilayah, bupati agus suradnyana

Aktivitas pembangunan pura di Bukit Sanghyang di Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Buleleng (Istimewa)

Share this      

BANJAR – Luas lahan hutan di Bukit Sanghyang yang diduga dibabat untuk lokasi pembangunan pura, diperkirakan mencapai satu hektare.

Lahan seluas itu, dikhawatirkan memicu bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di kawasan hilir. Fakta itu diungkap Kelian Pecalang Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, Ketut Sriasa.

Kepada wartawan, Sriasa mengatakan dirinya sempat melakukan pengecekan lokasi yang dimaksud. Lokasi itu cukup sulit diakses, karena hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Sriasa mengungkapkan saat itu dirinya naik ke lokasi bersama dengan beberapa anggota pecalang lain di wilayah Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

Terutama yang berasal dari Desa Gesing, Kecamatan Banjar. “Di atas itu banyak pohon-pohon besar ditebang. Sudah rata.

Mungkin sudah satu hektare lebih yang diratakan. Ini sudah saya laporkan juga pada pengrajeg (Pengrajeg Catur Desa, Red),” kata Sriasa.

Selain lahan yang diratakan, dirinya juga menemukan beberapa bahan bangunan. Seperti besi, semen, dan pasir.

Ia menyebut ada beberapa lubang yang sudah digali. Diduga lubang-lubang itu akan digunakan sebagai pondasi bangunan permanen.

“Ada beberapa lubang. Kalau lihat bentuknya, kemungkinan itu jadi tempat pembuatan (konstruksi) cakar ayam. Ada juga besi-besi untuk rangka beton yang sudah terpasang di sana,” tutur Sriasa.

Sriasa juga menyebutkan dirinya menemukan beberapa lokasi pemujaan. Sebuah pelinggih berbentuk permanen sudah berdiri tegak, berikut dua buah patung macan yang terpasang.

Ada pula sebuah bangunan yang diduga menjadi lokasi semedi, dan sebuah pelinggih turus lumbung. Hal itu jelas cukup mengagetkan.

Sebab jarak antara lokasi pembangunan dengan lokasi pemukiman warga mencapai enam jam jalan kaki. Terlebih lagi daerah itu masuk dalam wilayah hutan.

Sementara itu Pengrajeg Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, I Gusti Agung Ngurah Pradnyana mengatakan, hingga kini dirinya masih menanti hasil kajian dari Gubernur Bali Wayan Koster terkait pembangunan pura di areal hutan tersebut.

I Gusti Agung Ngurah Pradnyan mengatakan, dirinya tidak dalam posisi menolak atau menyetujui pembangunan pura tersebut.

“Kami sudah sampaikan pada Pak Gubernur, adat kami seperti apa dan kondisi krama kami seperti apa. Apapun hasil kajian dari beliau, pasti kami bicarakan lagi di internal catur desa,” tegas Pradnyan.

Lebih lanjut Pradnyan mengaku dirinya belum mengetahui secara pasti siapa yang melakukan pembangunan pura di wilayah tersebut.

Meski lokasi itu masuk wewidangan Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, namun dirinya sebagai pengrajeg di catur desa belum menerima permohonan pembangunan pura secara langsung.

“Kami belum tahu pasti siapa yang membangun. Selama ini hanya kabar burung saja. Yang pasti belum ada yang menyampaikan rencana pembangunan pura di sana. Baik itu pada kami di catur desa, maupun di Desa Adat Gesing,” imbuhnya.

Di sisi lain, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan, lokasi pembangunan pura itu berada di wilayah perbatasan antara Buleleng dengan Tabanan.

Bupati Agus Suradnyana mengaku akan melihat peta wilayah terlebih dulu, sebelum mengomentari masalah itu lebih jauh.

“Saya minta ada kajian mengenai pemetaan wilayah dulu. Biar jelas otoritas kewilayahannya. Intinya, semangatnya harus sama. Hulu Tabanan dan hulu Buleleng harus dihijaukan,” kata Bupati Agus.

Seperti diberitakan sebelumnya, kawasan hutan Bukit Sanghyang di selatan Desa Gesing, Kecamatan Banjar, diduga dibabat untuk lokasi pembangunan pura.

Pembabatan hutan itu memicu keresahan warga, terutama yang bermukim di Desa Gesing, Kecamatan Banjar.

Maklum saja, hutan yang dibabat itu berada di hulu Desa Gesing. Apabila dibiarkan gundul, warga khawatir akan memicu bencana. Entah itu tanah longsor maupun banjir bandang.

“Menurut adat kami, kawasan hulu itu kepala. Jangan diinjak, jangan dirusak,” kata Putu Sosiawan, salah seorang warga Desa Gesing.

Selain itu secara historis, di kawasan itu tidak terdapat pura. Hanya terdapat bebaturan yang juga berfungsi untuk pemujaan. 

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP