Sabtu, 22 Feb 2020
radarbali
icon featured
Features
Dari Reuni Akbar Gelora Dewata 89

Jeremy Nyetam Selalu Bawa Kamus, Fredy Muli Jadi Pengayom Pemain Muda

10 Februari 2020, 08: 34: 39 WIB | editor : ali mustofa

reuni akbar, gelora dewata 89, jeremy nyetam, bawa kamus, fredy muli, pengayom pemain muda

Berdiri dari kiri Nusyadera, Cenik Arsana, Ali Musa, Wayan Kana, Budi Ratmono, dan Jeremy Nyetam. Jongkok dari kiri Kadek Swartama, Eka Pratama, Wayan Sukadana, Ida Bagus Mahayasa, dan Yanto Iman (Alit Binawan/Radar Bali)

Share this      

Setelah 20 tahun Gelora Dewata (GeDe) berpindah markas ke Sidoarjo, Sabtu (8/2) dan Minggu kemarin (9/2), para legenda akhirnya kembali lagi bertemu.

Lebih dari 30 pemain yang sempat membela GeDe terhitung sejak media 1989 hingga 2000 tumpah ruah dalam reuni kali ini.

ALIT BINAWAN, Denpasar

GENERASI 90-an mungkin tidak banyak yang tahu siapa saja pemain dari Gelora Dewata (GeDe). Namun, suporter yang lahir pada tahun 80-an kebawah jelas tahu bagaimana

pemain GeDe yang ikut membantu tim asal Pulau Dewata tersebut merengkuh gelar juara Piala Galatama dan melaju ke Piala Winners 1994.

Total ada sekitar 40 mantan pemain GeDe yang datang dalam reuni akbar perdana setelah klub tersebut berpindah markas ke SIdoarjo dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta pada tahun 2001.

Nama-nama seperti Didik Jambrong, Ali Musa, Fredy Muli, Nus Yadera, hingga pemain asing pertama milik Gelora Dewata Jeremy Nyetam hadir dalam reuni akbar tersebut.

Tawa dan canda mewaranai reuni ini. Mereka berecerita dengan sesame pemain seakan mereka masih terlihat sangat muda.

Padahal, rata-rata pemain sudah berusia 50 tahun keatas. Soal skill mengolah si kulit bundar, jangan ditanyakan lagi.

Kemampuan mereka masih tetap terasah. Buktinya dalam trofeo menghadapi SIWO PWI Bali dan klub amatir Putra Renon, mereka berhasil menjadi juara.

“Teman-teman tidak banyak yang berubah. (Wayan (Sukadana), Ida Bagus Mahayasa, masih seperti yang dulu. Hanya mereka sudah tua saja sekarang,” ujar Jeremy Nyetam dengan tertawa.

Jeremy menjadi satu-satunya pemain asing yang datang jauh-jauh dari Melbourne. Sedangkan pemain asing lainnya seperti Mario Abel Campos hingga Vata Matanu Garcia berhalangan untuk hadir.

Dia ingat betul bagaimana pertama kali dia datang sebagai pemain anyar GeDe. Kala itu pada tahun 1994, dia masih berusia 19 tahun ketika sang manajer Gelora Dewata saat itu, Vigit Waluyo berminat kepadanya.

Dia pindah dari klub dvisi dua Liga Portigal Victoria Setuba. Selama dua musim, dia menjadi pemain vital di klub yang dibentuk oleh pengusaha asal Surabaya, Haji Mislan.

Saat ditemui kemarin, Jeremy meminta maaf kepada rekan-rekannya yang lain. Tentu dengan nada yang bercanda juga.

Maklum, dia menjadi salah satu pemain yang suka melucu. Pemain asal Kamerun tersebut meminta maaf bukan tanpa alasan. Karena dia, GeDe “dilengserkan” secara paksa di Piala Winners.

Padahal mereka sata itu berhak melaju kebabak selanjutnya setelah berhasil menang menghadapi Kuala Lumpur FC. “Sekarang, saya mau minta kepada teman-teman semua karena gara-gara saya satu tim didiskualifikasi,” ujarnya dengan tertawa.

“Sebenarnya hanya saya saja yang bermasalah. Waktu itu, ITC (International Transfer Certifictae) saya belum diurus oleh agen.

Tapi Pak Vigit tidak tahu hal tersebut. Dia kira berkas saya sudah selesai dengan Setuba. Waktu itu, tidak ada pemain yang tahu.

Baru beberapa tahun setelahnya, semua jadi tahu apa asalah sebenarnya,” tambah pemain yang sejak tahun 1999 menetap di Melbourne tersebut.

Dari obrolan wartawan koran ini dengan beberapa pemain, diketahui jika Jeremy adalah pemain yang paling ramah dan suka melucu.

Bayangkan, saat pertama kali tiba di Pulau Dewata dan berseraga,m GeDe, semua orang diajak berbicara.

Padahal, dia tidak tahu apa yang diucapkan orang-orang. “Semua orang diajak bicara. Ada orang ketawa, dia ikut ketawa.

Kemana-mana dia selalu bawa kamus. Aneh memang dia,” terang pencetak 60 gol di Gelora Dewata Ida Bagus Mahayasa.

Ketika disinggung mengenai hal itu, Jeremy tidak menyangkalnya. Tapi dia justru menyebut Wayan Sukadana yang paling lucu di klub yang memiliki basis suporter bernama Semeton GeDe tersebut.

“Sukadana dan Mahayasa itu yang paling lucu. Ada Erik Ibrahim juga. Abel Campos juga lucu. Tapi semua tidak bagus,” ucapnya dengan tersenyum.

Dengan keterbatasan bahasa, dia sangat terbantu dengan peran Sukadana. Kemana-kemana, kedua pemain ini selalu bersama. Saat away pun, keduanya satu kamar. Itu yang membuat dia cepat beradaptasi.

“Kebetulan saya dan Wayan umurnya hampir sama (Sukadana saat itu berumur 18 tahun dan Jeremy berusia 19 tahun).

Posisi kami juga sama-sama dibelakang. Kami banyak meluangkan waktu bersama-sama untuk ngobrol,” terangnya yang saat ini beralih profesi sebegai pekerja kantoran di Melbourne.

Lain Jeremy lain pula Fredy Muli. Dia saat bergabung ke GeDe pada tahun 1993 adalah pemain senior.

Dialah pengayom bagi pemain muda yang masuk dalam skuad The Dream Team saat menjadi kampiun Piala Galatama dan runner Galatama sebelum berubah nama menjadi Liga Dunhill.

“Sebenarnya saya tidak tahu waktu almarhum H. Mislan mengajak saya ke Gelora Dewata. Usia saya waktu itu sudah 33 tahun.

Tapi akhirnya saya memutuskan bergabung dari sebelumnya di klub milik Pak Dahlan Iskan Mitra Surabaya. Saya juga pensiun disini,” terang mantan Pelatih Persegi Gianyar, PSS Sleman dan Persibat Batang tersebut.

Kemarin, dia tidak bermain. Dia hanya memantau mantan rekan setimnya dulu dari pinggir lapangan. Pelatih yang mengorbitkan Andik Vermansyah tersebut terkenang dengan masa-masa jaya GeDe.

Ketika melihat M. Thoyib dkk bermain, tidak henti-hentinya dia memberikan berteriak untuk sekadar memberi semangat.

“Usia rata-rata sudah kepala lima, tapi skill masih tetap terjaga,” ungkapnya. Dia sangat senang bisa kembali ke Stadion Ngurah Rai. Di stadion inilah belasan ribu suporter selalu memadati laga kandang GeDe.

“Dulu itu suporter penuh sekali. Waktu itu kan baru Gelora Dewata yang punya prestasi bagus. Nama kami selalu diagung-agungkan.

Saat away, kami sangat jarang naik pesawat. Kami selalu jalur darat entah waktu lawan Persebaya atau ke Pulau Jawa. Benar-benar sangat terharu saya bisa kembali kesini dan bereuni dengan mereka,” terangnya.

Dengan formasi baku 3-5-2, GeDe benar-benar ditakuti di era Galatama. 13 kali kemenangan beruntun pernah dirasakan mereka.

Tim sekelas Persipura dan PSM Makassar saja tidak sanggup menang di Stadion Ngurah Rai. “Mana bisa Persipura menang disini. PSM saja kami hajar 5-0.

Tapi, kami justru dikerjai di Makassar. Akhirnya kami kalah dengan skor sama. Pak Nurdin Halid yang waktu itu jadi Manajer PSM ingin balas dendam karena kalah besar. Hahaha,” ungkapnya.

Usia dan profesi dari masing-masing pemain sekarang sudah berbeda. Mereka sudah memiliki jalan hidupnya masing-masing. Hanya satu yang masih sama menurut Muli adalah kebersamaannya.

“Kami ini bukan sebuah tim, tapi keluarga. Saya sebagai pemain senior bagaimana caranya untuk mengayomi dan menjadi contoh yang baik untuk pemain muda.

Anak muda Gelora Dewata, benar-benar luar biasa,” tutup Muli yang diakhir kariernya di GeDe sebagai Asisten Pelatih tersebut. (*)

(rb/lit/mus/JPR)

 TOP