Selasa, 25 Feb 2020
radarbali
icon featured
Events
PT. Paragon Technology and Innovation

Tiga Tahun Umrohkan 1.700-an Karyawan

10 Februari 2020, 09: 58: 39 WIB | editor : ali mustofa

umroh bersama, pt paragon, wardah cosmetics, tiga tahun, umrohkan 1700 karyawan

SAAT PURNAMA DI ATAS KA’BAH: Jawa Pos Radar Bali bersama rombongan jamaah umroh Paragonian usai menunaikan ibadah umroh pertama di Masjidil Haram, Makkah Al Mukarromah, Arab Saudi, Sabtu malam Minggu, bulan lalu (11/1). (Wardah Cosmetics - Syafriani Pulungan for Radar Bali)

Share this      

SEJAK 2017, produsen kosmetik halal (Wardah Cosmetics), PT Paragon Technology and Innovation (PTI), telah mengumrohkan gratis, tak kurang 1.700 orang pegawainya.

’’Setiap Paragonian (pegawai PT Paragon Technology and Innovation, Red) mendapat satu kali kesempatan menjalankan umroh atau wisata rohani.

Program ini, akan diadakan setiap tahun, untuk Paragonian yang telah turut mengembangkan produk Paragon minimal 7 tahun,’’ kata HCM PTI Rd Ira Anzaina Putri.

umroh bersama, pt paragon, wardah cosmetics, tiga tahun, umrohkan 1700 karyawan

LOGO PARAGON: Dari kiri ke kanan, Savero Karamiveta Dwipayana, Rd Ira Anzaina Putri, Erwin Kustiman, Dr Aqua Dwipayana, Djoko Heru Setiyawan, dan Dwi Suci C, di pabrik Paragon di Kawasan Industri Jata (Wardah Cosmetics - Syafriani Pulungan for Radar Bali)

Jawa Pos Radar Bali (Djoko Heru Setiyawan), menjadi satu dari lima wartawan terpilih se-Nusantara, dapat undangan umroh dari pendiri sekaligus

pemilik Paragon Dr (HC) Nurhayati Subakat, dan CEO Paragon Salman Subakat, melalui motivator internasional, Dr Aqua Dwipayana.

Bersama wartawan Pikiran Rakyat (Erwin Kustiman), dan Paragonian dalam kelompok terbang (kloter) 13, umroh pada Rabu (8/1) hingga Kamis bulan lalu (16/1).

Jawa Pos Radar Bali bersama Erwin yang nginap Hotel Amaris Mampang, Jakarta Selatan, usai Subuh, Rabu (8/1), sudah ditunggu Aqua Dwipayana, bersama anak bungsunya, Savero Karamiveta Dwipayana, di resto hotel.

Di sela sarapan bersama, Aqua memanggil driver Wardah Cosmetics, Ari, untuk sarapan bersama. Sedianya, kami akan ke pabrik Paragon di Kawasan Industri Jatake, Cikupa, Tangerang, Banten, bersama CEO Paragon, Salman Subakat.

Namun, Salman batal bergabung, baik saat sarapan maupun malam sebelumnya. “Assalamu’alaikum Mas Djoko, ini Salman.

Mohon maaf, kemarin ngga’ sempat mampir, sudah kemaleman dari Mampang. Kita segera bertemu setelah pulang (umroh, Red),’’ demikian WA Salman.

Usai sarapan, kami ke pabrik Paragon. Sambil menunggu Nurhayati Subakat, dan sang putri, VP of Research and Development Paragon dr Sari Chairunnisa, kami ditemani Rd Ira Anzaina Putri dan Corcom Paragon Dwi Suci C.

’’Kami sudah beberapa kali mengalami kesulitan bersama perusahaan kami. Pernah jatuh bangun. Saya pegang teguh pesan ibu saya, yang menginspirasi;

di balik kesulitan, ada kemudahan,’’ kata Nurhayati di salah satu ruangan di Gedung Research & Innovation Center Paragon di Tangerang.

Pesan ibunya Nurhayati tersebut, sesuai firman Allah SWT dalam Alquran Surat Asy- Syarh ayat 5. ’’Maka sesungguhnya, bersama kesulitan, ada kemudahan,’’ demikian terjemahan ayat tersebut. 

Kesulitan yang dimaksud Nurhayati, seperti; terbakarnya pabrik berbendera PT Pusaka Tradisi Ibu yang mulai berkembang.

Nurhayati merupakan lulusan terbaik (cum laude) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1976. Sempat melamar jadi dosen, namun gagal.

Lantas, praktik di Kimia Farma. Sembilan tahun kemudian, 1985, merintis home industry. Dibantu asisten rumah tangganya, mengawalinya dengan promo sampo ke salon-salon di Jakarta. Akhirnya, produknya diterima pasar.

Ujian terbakarnya pabrik itu, terjadi pada 1990. ’’Sebenarnya, kalau pun saya tutup pabrik, gaji suami sudah mencukupi

kehidupan kami. Namun, saat itu, kalau perusahaan saya tutup, bagaimana nasib karyawan dan keluarganya,’’ kisahnya.

Setelah kebakaran, mengajukan kredit usaha kecil ke Bank Indonesia (BI). ’’Saat pengajuan kredit, saya minta Rp 50 juta. Tapi,  dikasih Rp 150 juta oleh BI,’’ kenangnya.

Benar adanya. Sesuai keyakinannya, kemudahan demi kemudahan akhirnya datang jua. Hingga bisnisnya berkembang.

Dalam kemajuan perusahaannya, diakui banyak pertolongan Allah SWT. Bermula 1995, datang rombongan Pondok Pesantren Hidayatullah berkunjung (visit factory).

’’Tamu dari Hidayatullah itu, memberi ide untuk concern produksi kosmetik halal (islami, Red),’’ sambungnya. 

Akhirnya, dipilihlah brand Wardah. Demi positioning di segmen kosmetik halal, tutup produk halal tersebut, didesain mirip kubah masjid.

Syukurnya lagi, pada 2009, hijabers booming. Sehingga, produk Wardah pun turut laris manis di kalangan hijabers.

Sejak 2002, anak-anak Nurhayati mulai bergabung ke perusahaannya. Sehingga, generasi kedua mulai ambil bagian di perusahaan.

Salman Subakat (CEO), Harman Subakat (Direktur Operasional), dan dr Sari Chairunnisa (Direktur R&D atau VP of Research and Development).

Seiring booming hijabers, 2009 pun dilakukan re-branding Wardah. Diikuti, pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu berganti nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation.

Seiring berkembangnya Paragon, pada 2018, Forbes Asia menganugerahi Nurhayati dengan; The Women Making Their Mark In Asia's Enterprises. Kemudian, pada April 2019, almamaternya, ITB, juga memberikan gelar doktor honoris causa.

Dengan 12 ribu orang karyawan yang bekerja di areal seluas 20 hektare, kini setiap tahun, Wardah mampu launching 200 produk baru. ’’Salah satu varian produk kami, hasil research selama 10 tahun,’’ jelas Corcom Paragon Dwi Suci C.

Apalagi mimpi Nurhayati? Ingin Wardah jadi global brand. Saat ini, nembus Turki dan Malaysia. Targetnya, sebagai 10 besar brand kosmetik di dunia. Untuk pasar dalam negeri, Paragon kini market leader industri kecantikan di Indonesia.

Selain Wardah, Paragon memproduksi; Make Over, Emina, dan Putri. ’’Kami juga berharap, tidak hanya bermain di bidang kosmetika.

Tapi, juga bisa melangkah ke toiletries (perlengkapan mandi),’’ bebernya, optimistis, sambil ngaku, beberapa produknya juga disukai turis asing di Nusa Dua.

Setelah sukses dengan omzet triliunan rupiah, Nurhayati sekeluarga tak melupakan jasa pegawainya. Salah satu apresiasinya, lahirlah program umroh gratis bagi Paragonian ini.

Sudah berlangsung tiga tahun bersama NRA Tour & Travel. Seperti apa respons jamaah umroh Paragonian?

’’Perjalanan ibadah umroh saya yang Masya Allah, sangat membahagiakan bagi saya. Seperti perjalanan menuju surga yang tidak pernah terlupakan seumur hidup saya,’’ tutur Syafriani Pulungan, Distribution Center (DC) Paragon Medan.

Fhia---pangilan akrab Syafriani---juga sangat berkesan dan kagum dengan sang CEO Paragon, Salman Subakat.

Menurutnya, sebelum berangkat umroh, saat jam makan malam, Salman mau datang menemui Paragonian di Wisma NRA. Menyapa dengan tanya kabar, hingga foto bersama. 

’’Bapak (Salman Subakat, Red) yang rendah hati dan selalu ramah, nggak pernah berubah. Bapak Salman pun minta buat foto bersama, malam itu,’’ kenangnya.

Sementara, atas kebaikan Nurhayati dan  Salman Subakat, Dwi Agustina dari DC Paragon Palembang sangat bersyukur.

’’Subhanallah,  Ibu (Nurhayati, Red) itu, ’malaikat’ yang nyata. Subhanallah, Ibu. Semoga Ibu selalu diberi kesehatan, umur yang panjang,

dan selalu dalam lindungan Allah SWT,’’ ucapnya haru, dalam perjalanan dari Makkah Al Mukarromah menuju Bandara King Abdular Aziz di Jeddah.

Mahfudin Aldiansyah, DC Bogor, yang berangkat bersama Beauty Advisor (BA) DC Bogor Siti Nurhasanah mengaku senang sekali umroh bersama Paragon.

’’Saya nggak nyangka. Dengan umroh, bisa nambah ilmu. Semoga Paragon semakin maju dan jadi perusahaan multinasional,’’ harapnya.

Ustadz Malhan Sochib dari NRA Tour & Travel yang membimbing rombongan Paragon mengaku, membawa jamaah Paragon sudah tiga tahun.

’’Dan, hampir tiap tahun, saya lebih banyak bersama Paragon daripada dengan jamaah regular. Sehingga, saya dikenal dengan Ustadz Paragon,’’ tuturnya sambil ngaku, Paragonian tingkat disiplinnya tinggi.

Jawa Pos Radar Bali pun demikian. Di tempat-tempat mustajab, seperti di Raudhah, Masjid Nabawi, Madinah Al Munawaroh; di Multajam, Masjidil Haram, Makkah Al Mukarromah, pun memanjatkan doa.

Mulai doa titipan keluarga, teman-teman kantor, teman-teman di luar kantor. Juga doa khusus untuk kantor.

Dan, tentu saja doa untuk Nurhayati sekeluarga dan Paragon, juga doa untuk Aqua sekeluarga. Doa serupa juga saya panjatkan saat di Hijir Ismail (Ka’bah) dan di atas Jabal Nur,

saat napak tilas ke Goa Hira’, tempat Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu pertama, Surat Al Alaq ayat 1-5. (rba/djo)

(rb/mus/mus/JPR)

 TOP