Sabtu, 22 Feb 2020
radarbali
icon featured
Features
Mengulik Prosesi Mineh di Pura Geriana Kangin

Ritual Sakral Mengambil Air Susu Lembu untuk Campuran Sanganan Catur

11 Februari 2020, 05: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

prosesi mineh, pura geriana kangin, ritual sakral, air susu lembu, campuran sanganan catur

Ritual Mineh atau mengambil air susu Lembu yang akan dipakai untuk Sanganan Catur dan Suci (Wayan Putra/Radar Bali)

Share this      

Karya Genteg Linggih, Nubung Daging, Ngersi Gana dan Mepeselang yang akan digelar di Pura Dalem Geriana Kangin, kemarin memasuki prosesi Mineh.

Prosesi atau ritual Penyucian (Tempat yang sudah disucikan khusus untuk pembuatan sarana jajanan sekar catur red) ini sangat disakralkan. Seperti apa?

 

WAYAN Putra, Amlapura

KEUNIKAN Proses Mineh sendiri adalah terletak pada pengambilan air susu lembu untuk campuran Sekar Catur. Prosesi ini dipuput Ida Pendanda Istri Ngurah dari Geria Duda.

Sementara yang ikut ngayah Mineh atau mengambil susu lembu adalah Ide Pendanda Istri Rai Taman dari Geria Taman, Pegubungan.

Selain itu, hadir juga Ida Pedanda Istri Jelantik yang mengoordinir pengayah di Penyucian. Kegiatan ini dilakukan Senin (10/2) kemarin pukul 10.00 wita di Penyucian di Pura Puseh Desa Adat Geriana Kangin, Duda Utara, Selat, Karangasem.

Sebelum diambil susunya, lembu atau sapi putih ini dilakukan berbagai prosesi. Di antaranya dimandikan, kemudian dipasang busana putih kuning.

Ini dilakukan di Jaba Pura Puseh Desa Adat Geriana Kangin. Kemudian lembu tersebut digiring masuk ke Penyucian. Tampak beberapa orang Jro Mangku ikut ngayah dalam prosesi tersebut.

Tiba di Penyucian dilakukan pembersihan secara niskala terhadap lembu tersebut.  Di antaranya di otonin dan yang lainya.

Usai prosesi tersebut barulah susu dan yang lainya di ambil untuk kepentingan upacara. Lembu sendiri sesuai dengan kepercayaan Agama Hindu adalah binatang yang sangat disucikan.

Lembu dipercaya jadi kendaraan Dewa Siwa atau Mahadewa. Ritual Mineh sendiri hanya dilakukan saat akan upacara Karya Agung seperti ini.

Usai Mineh, lembu tersebut dikembalikan ke yang punya. Sore kamarin juga dilakukan ritual mendak Isepan atau Tebu. 

Mendak isepan dilakukan dari Pura Penimpenan menuju Pura Puseh Geriana Kangin. Mendak Isepan sendiri hampir sama maknanya, karena Isepan ini juga akan dijadikan gula untuk campuran jajanan guna piranti sekar catur dan yang lainnya.

Mendek isepan dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 1 km. Menurut Bendesa Adat Geriana Kangin Jro Ketut Yasa yang juga Ketua Panpel Karya, ritual ini merupakan salah satu ritual sakral.

“Mineh termasuk ritual yang disakralkan,” ujar Jro Ketut yasa. Karenanya dilakukan di Penyucian. Sementara untuk masuk ke Penyucian tidak sembarangan orang bisa masuk.

Yang tidak bisa masuk di antaranya orang yang cacat, sakit dan yang cuntaka atau sedang datang bulan.

Sementara di Penyucian juga tidak boleh berkata-kata kasar bahkan untuk meludah juga tidak boleh termasuk mengantuk.

“Kalau memang merasa ngantuk segera keluar dari Penyucian. Sementara semua pengayah disana wajib menggunakan ikat kepala dari kain putih atau janur untuk yang perempuan,” bebernya.

Sebelumnya juga telah dilakukan prosesi Ngunggahan Sunari dan Ngingsah atau mencuci beras untuk jajanan catur. (*)

(rb/tra/mus/JPR)

 TOP