Selasa, 25 Feb 2020
radarbali
icon featured
Dwipa
Festival Menyalin Aksara Bali

Diikuti 2.020 Siswa se- Klungkung, Siswa Madrasah Ikut Ramaikan

Bupati Suwirta: Tanda Toleransi Berjalan Baik

14 Februari 2020, 16: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

festival menyalin aksara bali, bupati suwirta, toleransi di klungkung, 2020 pelajar, pelajar madrasah

Bupati Klungkung Nyoman Suwirta saat mendekati pelajar madrasah yang mengikuti Festival Menyalin Aksara Bali kemarin (Istimewa)

Share this      

SEMARAPURA - Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Klungkung menggelar Festival Menyalin Aksara Bali bertempat di sekitar Catus Pata Klungkung kemarin.

Dalam festival tersebut, ada sebanyak 2.020 pelajar SD dan SMP se-Kabupaten Klungkung yang terlibat. Termasuk siswa Madrasah yang ada di Kabupaten Klungkung.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta dalam kesempatan itu menjelaskan, digelarnya Festival Menyalin Aksara Bali berkaitan dengan kegiatan Bulan Bahasa Bali.

Sesuai tahun digelarnya festival ini, adanya sebanyak 2.020 siswa SD dan SMP se-Kabupaten Klungkung di tiga kecamatan yang terlibat. Termasuk juga siswa- siswa Madrasah.

“Ini menandakan toleransi di Klungkung sudah berjalan dengan baik. Kegiatan ini juga diikuti di semua kecamatan dan sekolah-sekolah selama sebulan penuh,” ujarnya.

Di samping untuk melaksanakan amanah dari Gubernur Bali, Wayan Koster, menurutnya, festival yang digelar untuk kedua kalinya

di Kabupaten Klungkung itu bertujuan agar ke depannya adat dan budaya Bali tetap lestari melalui Nyurat Aksara Bali dan menggunakan Bahasa Bali yang benar.

Pihaknya meyakini dalam Aksara Bali yang dituangkan dalam lontar, ada petuah-petuah yang tentunya nanti bisa dibaca anak-anak ke depan.

“Nanti jangan hanya anak-anak bisa menyalin saja, tapi harus bisa juga membaca dan ditularkan kesemua teman serta anak-anaknya kelak,” tandasnya.

Sementara itu, salah seorang siswa MTs Hasanudin Semarapura, Anastasya menuturkan bahwa ini untuk kedua kalinya dia mengikuti Festival Menyalin Aksara Bali.

Dia mengaku sudah cukup fasih membaca dan menulis aksara Bali. Ini karena di sekolah dia juga mendapat mata pelajaran Bahasa Bali.

“Jadi saya tidak mengalami kesulitan membaca dan menulis dalam aksara Bali,” tandasnya. 

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP