alexametrics
Sabtu, 11 Apr 2020
radarbali
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Tiru Italia,Ini Alasan Bali Perlu Stop Kunjungan Turis Sementara Waktu

14 Maret 2020, 06: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

wabah corona, virus corona, pariwisata bali, tiru italia, stop kunjungan turis, dpr ri, kariyasa adnyana

Suasana Pantai Kuta saat wabah corona merebak (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR – Satu warga negara asing (WNA) yang positif terinfeksi virus Corona Covid – 19 meninggal dunia di RSUP Sanglah, Rabu (11/3) dini hari.

Sementara pasien suspect lainnya yang masih dalam status pengawasan masih dirawat di ruang isolasi RSUP Sanglah.

Berdasar fakta tersebut, anggota Komisi IX DPR RI Dapil Bali I Ketut Kariyasa Adnyana mengatakan, perlu kerja serius untuk menanggulangi wabah virus Corona di Bali.

Salah satunya meniru langkah pemerintah Italia yang menerapkan kebijakan lockdown setelah corona menjangkiti seluruh kawasan di negeri Pizza itu.

Menurut Kariyasa Adnyana, harus diambil kebijakan tepat dan cepat untuk menghentikan kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali.

Pemerintah, menurutnya, tak bisa mengandalkan pemeriksaan wisatawan di bandara untuk menangkal wabah virus Corona masuk ke Bali.

Pasalnya, kendati pemeriksaan di Bandara tak ada tanda-tanda terinfeksi virus Corona, itu tidak menjamin bahwa mereka benar-benar bebas dari virus Corona tersebut.

Politikus PDIP dari Buleleng ini menjelaskan, hampir semua negara menerapkan kebijakan untuk menghentikan kedatangan orang luar negeri ke negaranya.

Pemerintah Indonesia juga sudah mengambil kebijakan serupa, tapi terbatas pada negara-negara yang menjadi sumber endemi Virus Corona, seperti China, Korea, Jepang, Iran, dan Italia.

Namun, karena yang positif Corona dan meninggal justru warga negara asing dari Eropa,  negara yang bukan endemik virus corona, maka kebijakan menghentikan kedatangan wisman itu berlaku untuk semua semua negara.

"Jadi, kita harus berani ambil sikap distop dulu.  Karena sekarang hampir semua negara sudah menyetop. Kalau tidak melakukan seperti itu takutnya berat nanti kita dalam melakukan proses identifikasi,

biar tidak jadi endemik. Jangan sampai nanti virus Corona seperti terjadi pada babi di Bali, banyak yang mati, jadi mewabah," kata mantan anggota DPRD Bali ini.

Ia mengakui, kebijakan ini tentu berdampak pada pariwisata. Tapi kebijakan ini harus diambil untuk mencegah dampak yang lebih buruk bagi Bali.

Kerajaan Arab Saudi saja berani mengambil kebijakan seperti itu, padahal itu terkait dengan kegiatan keagamaan.

"Di Bali ini urusan pariwisata. Urusan agama saja disetop oleh Arab Saudi, kan. Mereka nyetop juga untuk umroh. Apalagi ini pariwisata," ujarnya lagi.

Menghentikan sementara kunjungan wisatawan itu bisa menjadi masa jeda untuk pariwisata Bali. Apalagi saat ini kunjungan wisatawan sudah menurun drastis semenjak isu virus Corona ini merebak.

Keran kunjungan wisatawan tentu dibuka kembali ketika Bali sudah benar-benar terbebas dari virus tersebut.

"Kondisi pariwisata ini tentu kalau istilah Bali Mulat Sarira, membersihkan diri dulu. Apalagi kita mau merayakan hari raya Nyepi, moment membersihkan diri.

Dalam konteks sekarang, di Bali dibersihkan dulu penyakitnya. Baru nanti dalam keadaan streril, lihat perkembangan dunia internasional," ujarnya.

Selain menghentikan sementara kunjungan wisatawan, Kariyasa juga meminta untuk segera dilakukan pengambilan sampel masyarakat di Bali.

Apalagi yang pernah berinteraksi dengan pasien, untuk memastikan di kemudian hari bahwa Bali steril dari virus Corona.

"Yang terpenting pengambilan sampel harus mulai dilakukan secepatnya. Karena ini masa inkubasinya 14 hari, masa menyebarkan virusnya.

Di Inggris itu sekarang tiap hari 10 ribu diambil sampel. Rumah sakit, pemprov, kabupaten, desa dinas duduk bersama, harus ada pemeriksaan, diambil sampel.

Tiap desa diambil sampelnya berapa. Kerahkan ambulance yang khusus, untuk keliling. Sehingga nanti tidak ada yang terbengkalai," katanya. 

(rb/feb/mus/JPR)

 TOP