alexametrics
Rabu, 21 Oct 2020
radarbali
Home > Events
icon featured
Events
Respons Sekolah Internasional Terkait Corona

BIS: E-Learning, Siswa Antusias Seperti Belajar di Kelas

17 Maret 2020, 01: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

wabah corona, virus corona, e-learning, bali island school, belajar di kelas, respons sekolah

M. Yunita Reny, Kepala Sekolah SPK Bali Island School (BIS) bersama para siswa. (Istimewa)

Share this      

DENPASAR - Dunia pendidikan di Bali terimbas virus corona (covid 19). Terhitung mulai Senin (16/3) kemarin, aktivitas belajar mengajar di Kota Denpasar "dihentikan" sementara.

Hal tersebut tertera dalam Surat Edaran No. 420/1396/SE/2020 yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gunawan, Sabtu (14/3) lalu.

Gunawan menyebut kebijakan tersebut diambil memperhatikan Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan No. 3 Tahun 2020 tentang pencegahan corona virus disease (Covid 19) pada satuan pendidikan.

Termasuk Surat Edaran Walikota Denpasar 443.33/1637/Dikes tanggal 5 Maret 2020 tentang peningkatan kewaspadaan penyebaran penyakit akibat virus corona.

Banyak pihak menyangsikan para siswa bisa belajar dengan baik saat "dirumahkan". Menariknya, hal ini dibantah oleh M. Yunita Reny, Kepala Sekolah SPK Bali Island School (BIS).

"Hari ini adalah hari pertama kami memulai Distance Learning ini dan anak anak terlihat sama antusiasnya layaknya ketika mereka belajar di sekolah," ujarnya kepada Radarbali.id, Senin (16/3) siang.

Yunita menyebut BIS menggunakan beberapa aplikasi untuk e- learning. "Di Primary (SD) kami menggunakan See Saw, Google Classroom, dan beberapa aplikasi lainnya.

Kami menggunakan e-learning sebagai bentuk  tanggung jawab kami kapada peserta didik kami. Kami berharap

proses pembelajaran tetap berjalan secara maksimal walaupun proses tersebut dilakukan dari jarak jauh," tandasnya.

Yunita menerangkan pihaknya mengambil langkah sigap saat kasus corona dikonfirmasi terjadi Indonesia.

BIS terus beroperasi dalam kondisi normal dengan langkah tambahan sebelum para siswa dirumahkan mulai Jumat, 13 Maret 2020.

Antara lain lewat pemeriksaan suhu tubuh yang dilakukan di gerbang sekolah setiap pagi untuk semua siswa, guru, dan karyawan BIS.

"Jika didapati suhu 37.5 celsius atau lebih kami akan meminta orang tersebut untuk menemui perawat sekolah kami untuk diperiksa kembali dengan termometer yang lebih akurat.

Jika memang itu terjadi, maka orang itu akan diminta pulang," ungkapnya. Imbuhnya, BIS yang didominasi siswa ekspatriat juga melakukan beberapa prosedur.

Pertama, 14 hari seseorang harus melakukan isolasi diri setelah melakukan perjalan ke daratan Cina, Korea Selatan, Iran dan Italia sebelum meluas ke beberapa negara lain.

Kedua, pembersihan secara teratur segala sesuatu yang telah digunakan siswa, misalnya meja, kursi, dan sejenisnya.

Ketiga, intruksi mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau cairan disinfectant. Termasuk tidak berbagi makanan dan botol minum.

"Yang paling penting kami terus meminta keluarga untuk selalu waspada," tegasnya. Terkait aktivitas akademik,

Yunita menyebut BIS yang merupakan sekolah internasional tertua di Bali telah membatalkan sejumlah konferensi di wilayah Asia Tenggara.

Termasuk menyarankan para siswa untuk menjauhi pertemuan-pertemuan besar sebagai tindakan pencegahan.

"Belajar online ditetapkan sampai 13 April 2020. Kami libur semester mulai 19-27 Maret 2020. Tanggal 30 Maret hingga 13 April 2020 distance learning commence lagi," jelasnya. 

(rb/ken/mus/JPR)

 TOP