alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Melihat Ogoh-ogoh Raja Buduh di Tampaksiring

Duduk di Kursi dengan Wajah Seram, Isyaratkan Tak Sindir Siapapun

26 Maret 2020, 07: 25: 59 WIB | editor : ali mustofa

ogoh-ogoh, raja buduh, banjar kelodan, duduk di kursi, wajah seram, tak sindir siapapun

Ogoh-ogoh raja buduh di pajang di Balai Banjar Kelodan, Desa Tampaksiring (Istimewa)

Share this      

Sekaa Teruna Sentana Luhur, Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, membuat ogoh-ogoh dengan tema raja buduh atau raja gila.

Ogoh-ogoh besar yang duduk di sebuah kursi itu pun menjadi perhatian publik. Seperti apa?

 

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

SOSOK raja buduh atau raja gila belakangan viral di masyarakat Indonesia. Tidak saja di Bali. Di luar Bali, kemunculan raja-raja baru pasca-kemerdekaan mengundang kontroversi.

Fenomena itulah yang kemudian diangkat oleh pemuda di Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring.

Ogoh-ogoh berukuran jumbo itu dibuat menyerupai manusia besar. Sosok itu duduk di sebuah kursi berukir.

Wajahnya seram. Guratan yang detail menjadikan ogoh-ogoh itu mengundang decak kagum. Banyak masyarakat yang sengaja datang ke Tampaksiring hanya untuk melihat langsung ogoh-ogoh yang dibuat di balai Banjar setempat.

Konseptor ogoh-ogoh raja buduh, Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam, mengaku konsep itu sebetulnya akan dibuat pada 2019 lalu.

Namun karena ada suatu hal, maka tahun lalu dibuatlah ogoh-ogoh berkonsep Dewi Durga. Sehingga ogoh-ogoh raja buduh baru kesampaian dibuat pada 2020 ini.

"Kalau ogoh-ogoh raja buduh itu tyang (saya) tidak ada berniat untuk menyindir siapapun," ujar Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam.

Menggunakan 50 batang bambu, 300 sisiran bambu, dan 200 anyaman bambu, ogoh-ogoh raja buruh dibuat selama 2 bulan. Sebanyak 50-an pemuda di Banjar itu bahu membuat karya seni itu.

Diakhir rangka, guratan seni wajib ditonjolkan. Yang ditonjolkan dalam karyanya adalah anatomi dari tubuh manusia.

Dalam berkarya, dia tidak mengedepankan sinopsis dalam ogoh-ogoh. Namun, lebih menonjolkan visualisasi, karena ogoh-ogoh terlihat seram jika visualiasinya digarap secara serius.

"Kebanyakan orang lebih senang melihat bentuk dan wajah ogoh-ogoh dari pada sebuah sinopsisnya," terang pemilik nama panggilan Gusman itu.

Sejak 2015 lalu, pemuda Banjar itu lebih menonjolkan anatomi karya. "Karena semua ogoh-ogoh saya kira harus ada bagian anatominya, kadang dikejar waktu sehingga sekedar saja," ungkapnya.

Meski sudah ada larangan mengarak ogoh-ogoh, pihaknya tetap merampungkan bagian yang belum jadi. "Ogoh-ogoh tidak diarak. Disiapkan saja," ungkap pemuda 28 tahun itu.

Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tersebut mempaparkan sejak 2015 lalu terdapat enam karya yang sudah dibuat bersama pemuda setempat.

Berawal dengan ogoh-ogoh tanpa judul pada 2015. Kemudian pada 2016 ogoh-ogoh bertema Anca Srawa, 2017 ogoh-ogoh seorang prajurit, 2018 ogoh-ogoh Kala-kali, dan 2019 ogoh-ogoh Durga. (*)

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP