alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Napi Mendadak Tewas Usai Batuk-Batuk, Penghuni LP Kerobokan Ketakutan

22 Mei 2020, 20: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

napi tewas, tewas usai batuk, napi narkoba, napi LP Kerobokan, RSUP Sanglah, wabah Covid-19, sakit jantung, warga binaan ketakutan,

Ilustrasi (Dok. Jawa Pos)

Share this      

DENPASAR- Kabar heboh datang dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kerobokan.

Kabar menggemparkan itu, menyusul tewasnya salah seorang narapidana (napi) kasus narkotika bernama I Wayan Sudarta, 58.

Sesuai informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, Jumat (22/5), Sudarta tewas usai sakit batuk sejak seminggu.

Kontan akibat tewasnya salah seorang napi di LP Kerobokan, membuat warga binaan ketakutan.

Warga binaan takut karena ia tewas saat wabah Corona.

 "Ya dia mengeluh batuk. Bahkan yang kami nilai dia batuk berdahak sehingga di bawa ke RSUP Sanglah Kamis (21/5) pagi. Kamis siang (lalu) beredar info bahwa dia dinyatakan meninggal dunia di RSUP Sanglah Denpasar setelah sebelumnya mengalami batuk berdarah," kata sumber.

Terkait meninggalnya napi, Kalapas Kerobokan, Yulius Sahruza membenarkan.

Kata kalapas, sebelum meninggal dunia, Sudarta sempat mengeluh sakit batuk berdahak pada Kamis (21/5) pagi.

Lalu rekan korban sempat membawanya ke klinik Lapas. Namun sekitar pukul 09.30 pagi, ia di rujuk dan harus dilarikan ke RSUP Sanglah Denpasar.

Namun selain sakit batuk, masih kata Yulius, Sudarta juga diketahui memiliki riwayat sakit jantung yang cukup lama.

Bahkan, saat dilarikan ke RSUP Sanglah Denpasar, istri dan sanak saudara mendiang juga sudah menunggu.

Namun setelah sempat dirawat, ia dinyatakan meninggal sekitar pukul 13.30.

"Dari hasil pemeriksaan dokter dan keterangan keluarga diketahui bahwa korban memiliki riwayat sakit yang cukup lama. Yang bersangkutan juga sebab dia peminum berat waktu di luar," terang

Korban sendiri merupakan warga binaan yang menjalani masa hukuman selama lima tahun. Dia sudah menjalani hukumannya sekitar dua tahun.

Terkait penyakit yangdialami korban, Yulius menerangkan bahwa korban belum sempat di lakukan uji swab.

Meski demikian, korban diyakini tidak mengidap covid-19. Pasalnya, selama ini kaya Yulius, narapida di Lapas Kerobokan tidak ada kontak langsung dengan masyarkat dari luar.

Meski demikian, beberapa tindakan antisipasi terus dilakukan.

Untuk penanganan sendiri, dilakukan vogging karena di luar juga ada penyakit demam berdarah.

Voging atau penyemrpotan disinfektan di lapas rutin dilakukan untuk upaya ntisipasi. " “Jenazah sudah diserahkan kepada pihak keluarganya," tutup Yulius.

(rb/dre/pra/JPR)

 TOP