alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarbali
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Jelang New Normal, Dispar Buleleng Minta Tak Ada Stigma Bagi Wisatawan

03 Juni 2020, 03: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

pariwisata bali, pariwisata buleleng, new normal, dispar buleleng, stigma bagi wisatawan

Suasana Pantai Lovina terlihat sepi dari aktivitas wisatawan. (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA – Dinas Pariwisata Buleleng meminta agar masyarakat bisa menerima kedatangan wisatawan ke Buleleng.

Baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara. Permintaan itu disampaikan, menyusul rencana dibuka kembali keran pariwisata di Pulau Bali.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Made Sudama Diana mengatakan, hingga kini sebenarnya belum ada kepastian terkait pemberlakuan keran pariwisata di Bali.

“Regulasinya belum ada. Sebelum ada new normal itu kan akan ada regulasi dan protokol kesehatan. Jadi kondisinya masih seperti kemarin-kemarin, destinasi belum dibuka,” kata Sudama.

Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Bali, seluruh destinasi masih mengalami penutupan. Di Pantai Lovina misalnya.

Pantai yang ditutup sejak medio Maret itu, masih terlihat sepi. Masih terlihat sejumlah pengunjung di areal pantai. Utamanya warga setempat. Sementara wisatawan mancanegara, tak terlihat beraktifitas di sekitar pantai.

Lebih lanjut Sudama mengatakan, sejumlah pengelola destinasi kini mulai mempersiapkan beberapa fasilitas yang tercantum dalam protokol kesehatan.

Seperti memasang tempat cuci tangan. Beberapa pengelola juga mulai menyiapkan thermo gun untuk mengukur suhu pengunjung.

Jelang pemberlakuan new normal, Sudama meminta agar masyarakat menghilangkan stigma negatif terhadap wisatawan.

Entah itu wisatawan domestik maupun mancanegara. Selama wisatawan telah melalui protokol kedatangan dan protokol kesehatan, maka wisatawan semestinya tak dilarang berkunjung atau menginap di suatu daerah.

Ia mengaku sempat menerima beberapa pertanyaan dari pengelola akomodasi pariwisata. “Pernah ada hotel di salah satu kecamatan, mereka mau menerima tamu.

Nah tamu itu bukan dari luar negeri, tapi sudah lama ada di Bali. Hanya serba sulit menerimanya. Kami sarankan agar jangan ditolak.

Tapi, koordinasi ke desa dan satgas. Sepanjang memenuhi protokol kesehatan, tidak ada alasan menolak,” tegasnya.

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP