alexametrics
Kamis, 09 Jul 2020
radarbali
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Panan Raya, Harga Anjlok, Petani Cengkih Buleleng Gigit Jari

Harap PD Swatantra Serap Cengkih Petani

27 Juni 2020, 01: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

panen raya, harga anjlok, petani cengkih buleleng, petani gigit jari, pd swatantra, serap cengkih petani

Aktivitas memilih cengkih di Desa Padangbulia (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA – Para petani cengkih di Buleleng kini gigit jari. Pada musim panen raya ini, mereka tak mendapat margin keuntungan yang memadai.

Harga cengkih kini menurun drastis. Para pengepul berdalih masa pandemi membuat harga cengkih mengalami penurunan. Padahal, serapan harga cengkih di pabrik, masih terbilang tinggi.

Tahun ini sebenarnya merupakan tahun panen raya bagi petani cengkih. Tahun lalu, hasil panen memang tak begitu menggembirakan.

Namun tahun ini, hasil panen cukup menggiurkan. Satu pohon bisa menghasilkan ratusan kilogram cengkih kering.

Salah seorang petani, Santi Mulyawati mengungkapkan, harga cengkih di tingkat petani kini turun drastis. Harga cengkih di tingkat petani hanya Rp 60 ribu per kilogram.

Padahal harga cengkih di pabrik, bisa diserap hingga Rp 100 ribu per kilogram. Namun, petani tak bisa begitu saja menyerahkan hasil panennya pada pabrik.

Mengingat pabrik memiliki standar kualitas yang tinggi. “Sekarang terpaksa ongkos buruh yang diturunkan. Biasanya kan Rp 5 ribu per kilogram, sekarang ongkosnya Rp 4 ribu per kilogram.

Kalau tetap pakai ongkos lama, nggak balik modal. Karena harga sudah murah sekarang,” kata wanita yang kini mukim di Padangbulia itu.

Dampaknya, petani pun kesulitan mencari buruh petik cengkih karena ongkos yang dianggap terlalu murah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarta mengatakan, tahun ini memang masuk musim panen raya di Buleleng.

Para petani pun mulai mengeluh kesulitan mencari buruh petih cengkih. Sebab harga cengkih di tingkat petani anjlok.

Sementara warga yang bersedia menjadi buruh cengkih dengan ongkos Rp 4 ribu per kilogram, sangat sedikit. Biasanya buruh baru bersedia memetik cengkih bila mendapat upah Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per kilogram.

“Ongkos buruh petik sekarang mahal. Petani juga kesulitan mendapatkan buruh cengkih, karena rata-rata berasal dari luar daerah.

Makanya kami sedang merancang semacam kesepakatan terkait upah ongkos petik dan regulasi bagaimana seandainya buruh dari luar desa masuk ke sana,” kata Sumiarta.

Sumiarta juga tak menampik kini harga cengkih anjlok. Bahkan harganya terkesan tak wajar. Jika di pasaran, harga mencapai Rp 80 ribu per kilogram.

Sementara di pabrik, harga bisa mencapai Rp 100ribu per kilogram untuk kualitas super. Perbedaan harga antara Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram itu, terang saja, cukup besar.

“Kami sedang berkomunikasi dengan PD Swatantra, bagaimana mereka bisa menyerap cengkih petani. Kalau bisa, BUMDes juga menyerap.

Sebab perbedaan harga antara Rp 60 ribu di petani dengan Rp 80 ribu di pasar ini kan terlalu lebar. Kami akan coba atasi ini,” tukasnya.

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP