alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarbali
Home > Events
icon featured
Events
STMIK Primakara

Lewat Buku, Kisahkan Mahasiswa Raih Omset Ratusan Juta saat Pandemi

25 Juli 2020, 10: 45: 01 WIB | editor : ali mustofa

stmik primakara, sephy lavianto, lewat buku, kisah mahasiswa mileneal, omset ratusan juta, pandemi covid-19

Dosen STMIK Primakara, Sephy Lavianto menerbitkan buku berjudul 'Millenial Wajib Kaya, Omset Ratusan Juta Saat Krisis'. (Istimewa)

Share this      

DENPASAR - Seorang dosen Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Primakara, Sephy Lavianto menerbitkan buku berjudul 'Millenial Wajib Kaya, Omset Ratusan Juta Saat Krisis'.

Buku ini berisikan kisah mahasiswa STMIK Primakara yang berhasil meraih omset ratusan juta di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Beberapa bulan lalu sebelum pandemi Covid-19, Sephy mulai mengampu mata kuliah e-commerce kepada mahasiswa Jurusan Sistem Informasi Akuntansi STMIK Primakara.

Saat mengampu mata kuliah tersebut, Sephy menantang mahasiswanya untuk membuat kelompok semacam perusahaan yang bisa menghasilkan omset yang besar.

Di dalam kelompok tersebut, setiap mahasiswa memiliki jabatan layaknya di perusahaan, mulai dari Direktur Utama, Direktur Pemasaran dan sebagainya.

Di kelas mata kuliah e-commerce tersebut akhirnya terbentuk sebanyak empat tim, terdiri dari Elites Bali, Segara Brand, Madeera dan The Ace.

Tak disangka, para mahasiswa tersebut ternyata bisa menghasilkan omset penjualan yang tinggi. Apalagi hal itu diraih di tengah pandemi Covid-19 yang sebagian besar masyarakat dan perusahaan lain justru mengalami krisis.

Segara Brand, misalnya, yang berhasil meraih omset sebanyak Rp 91.525.000 terhitung dari Februari hingga Mei 2020.

Kemudian Elites Store berhasil meraih omset sebesar Rp 27.251.000, Madeera Store Rp 50.169.600 dan The Ace Rp 28.943.000 dalam kurun waktu yang sama.

Sephy menuturkan, para mahasiswa tersebut sebenarnya mengawali usaha dari fashion seperti baju dan kebaya.

Lalu ada satu tim yang sudah membuat akun di marketplace seperti di Lazada. Mereka lalu melakukan optimasi di berbagai media sosial supaya lebih serius untuk menunjang penjualan.

"Mereka mencapai booming-nya itu pada saat panic pandemic. Panic pandemic itu barang-barang (yang dibutuhkan) kayak hand sanitizer (dan) masker.

Pokoknya saat itu sedang jarang di pasaran," tutur Sephy di sela-sela acara launching dan bedah bukunya di Aula Lantai 4 Gedung Kampus STMIK Primakara, Denpasar, Jum'at (24/7) pagi.

"Jadi, akhirnya ini multiproduk, awalnya mereka fokus di fashion, terus tiba-tiba pada saat terjadi momentum produk-produk yang dibutuhkan untuk korona ini,

mereka mengambil kesempatan di situ. Kenapa saya bilang in market-nya tepat sekali, karena mereka memang menjual barang-barang yang

dibutuhkan masyarakat saat itu di Bali. Pada saat itu kan langka barang-barang itu, ya mereka ambil kesempatan seperti itu," kata dia

Seiring berjalannya waktu, permintaan barang-barang akibat panic pandemic mulai menurun. Namun, ada salah satu tim mulai melirik menjadi distributor produk lain untuk ditawarkan ke pasaran, yakni berupa skin care.

"Saya berani mengatakan mereka melakukan bisnis yang real, karena mereka langsung berhadapan dengan market. Butuhnya ini mereka sediakan, butuhnya itu mereka sediakan," kata dia.

Sephy mengatakan, guna memulai usahanya itu para mahasiswa memiliki modal yang cukup kecil, yakni rata-rata mulai di angka Rp 1 juta.

Modal tersebut dikumpulkan secara patungan dari masing-masing orang di setiap kelompok yang dipakai untuk stok barang awal. Dari hasil kerja kerasnya, para mahasiswa langsung bisa balik modal pada bulan pertama.

Ketua STMIK Primakara, I Made Artana menilai, buku 'Milenial Wajib Kaya' sebenarnya mempunyai bahasan yang ringan, namun sangat berguna dalam situasi pandemi Covid-19.

Baginya, kisah mahasiswa yang berhasil meraih omset yang awalnya dari sebuah tugas mata kuliah di kampus ini sangat menarik untuk diceritakan.

"Karena tugas mereka ini sebenarnya mereka lakukan secara daring, jadi mereka satu sama lain menimbulkan kesulitan tersendiri ketika diberikan tugas kelompok untuk jualan," tuturnya.

Selain itu, kisah mahasiswa ini menarik diceritakan dikarenakan saat pandemi Covid-19 sebenarnya masyarakat mengalami tantangan besar dalam bidang ekonomi.

"Ketika anak-anak yang tugas kuliahnya mendapatkan omset sebesar itu, nah itu menjadi sesuatu yang menarik untuk diceritakan," kata dia.

Menurut Artana, hal ini di menjadi inspirasi bagi masyarakat di tengah pandemi Covid-19 untuk terus bisa memutar roda perekonomian secara bersama-sama.

Oleh karena itu, pihaknya mengaku sangat mendukung ketika dosen pengampu mahasiswa tersebut bakal menuliskan kisah mahasiswa dalam sebuah buku. (rba)

(rb/ken/mus/JPR)

 TOP