alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Perajin Album Foto di Desa Satra Klungkung Kini Telah Punah

Warga Beralih Profesi jadi Petani dan Buruh

10 Agustus 2020, 14: 27: 31 WIB | editor : ali mustofa

Perbekel Satra, I Dewa Putu Oka Arsana saat ditemui di kediamannya, Minggu (9/8/2020)

Perbekel Satra, I Dewa Putu Oka Arsana saat ditemui di kediamannya, Minggu (9/8/2020) (DEWA AYU PITRI ARISANTI/ RADAR BALI)

Share this      

SEMARAPURA - Desa Satra, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali sejak puluhan tahun lalu terkenal akan produk kerajinan album foto, bingkai foto dan produk lainnya berbahan alami seperti pelepah pisang, lamtoro dan dedaunan lainnya. Namun sejak awal tahun 2020, tercatat sudah tidak satu pun warga Desa Satra yang masih menggeluti profesi itu. Minimnya permintaan merupakan penyebab warga Desa Satra beralih profesi.

Perbekel Satra, I Dewa Putu Oka Arsana saat ditemui di kediamannya, Minggu (9/8) menuturkan, warga Desa Satra hampir seluruhnya berprofesi sebagai perajin produk-produk berbahan alami seperti pelepah pisang dan dedaunan sejak tahun 1990-an. Dan puncak kejayaan perajin Desa Satra diperkirakan tahun 1999. 

“Ada berbagai produk yang dibuat warga Desa Satra dari pelepah pisang, lamtoro dan dedaunan lainnya. Yang paling banyak diproduksi itu album dan bingkai foto,” bebernya.

Hanya saja seiring semakin banyaknya perajin yang memproduksi produk serupa, satu per satu warganya meninggalkan profesi itu. Sebab kondisi itu tidak hanya membuat permintaan semakin menurun karena terbagi oleh banyaknya perajin, namun juga menyebabkan terjadinya perang harga yang tidak sehat. 

“Orang yang dulu bekerja dengan warga kami, akhirnya memproduksi sendiri karena melihat hasil yang cukup lumayan. Karena kondisi itu akhirnya warga kami meninggalkan profesi itu,” katanya.

Hingga akhirnya hanya satu orang warga Desa Satra saja yang masih bertahan membuat produk berbahan alami itu hingga awal tahun 2020 lalu. Namun karena adanya pandemi Covid-19, pesanan untuk produk berbahan alami itu tidak lagi ada. Sehingga akhirnya tidak ada lagi warga Desa Satra yang menggeluti profesi tersebut saat ini. Profesi ini pun tinggal kenangan saja.

“Pemasaran produk kerajinan berbahan alami ini tidak hanya di tempat-tempat pariwisata di Bali. Tapi juga hingga ke luar negeri. Saat ini sudah tidak ada warga saya yang membuat produk kerajinan itu. Warga saya banyak yang beralih profesi sebagai pedagang dan buruh bangunan serta tani,” tandasnya.

(rb/yor/ayu/mus/JPR)

 TOP