alexametrics
Selasa, 24 Nov 2020
radarbali
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Banyak Objek Wisata Tutup, Dispar Dorong Desa Wisata Tangkap Peluang

25 September 2020, 09: 53: 28 WIB | editor : ali mustofa

pandemi covid-19, desa wisata, objek wisata tutup, dispar klungkung, desa wisata bakas

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Bakas kembangkan sejumlah destinasi wisata baru beberapa waktu lalu. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)

Share this      

SEMARAPURA - Kabupaten Klungkung saat ini memiliki 18 desa wisata. Hanya saja tidak semua mampu berkembang dan menjadi daya tarik wisata favorit di Kabupaten Klungkung.

Apalagi dengan situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Tercatat hanya satu desa wisata yang mampu bertahan dan masih banyak dikunjungi wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Klungkung AA Gede Putra Wedana mengungkapkan, 18 desa wisata yang ada di Kabupaten Klungkung itu tersebar 9 di Klungkung daratan, yakni Kecamatan Klungkung, Banjarangkan, dan Dawan.

Sementara 9 desa wisata lainnya tersebar di Kecamatan Nusa Penida. “Untuk saat ini baru satu desa wisata saja yang telah

memiliki sertifikasi protokol tatanan kehidupan era baru, yakni Desa Wisata Bakas, Kecamatan Banjarangkan,” ungkapnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Bakas semestinya dilakukan juga oleh desa wisata lainnya di Kabupaten Klungkung.

Meski daya beli masyarakat menurun, menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang berkeinginan dan mampu untuk berwisata.

Sehingga seharusnya Pokdarwis desa wisata lainnya tetap berupaya mengembangkan potensi-potensi yang ada di desanya. “Seperti Desa Wisata Bakas kan ramai dikunjungi wisatawan domestik,” katanya.

Apalagi saat ini banyak pengusaha pengelola pariwisata yang beristirahat akibat pandemi. Peluang tersebut seharusnya dimanfaatkan Pokdarwis desa wisata lainnya di Klungkung untuk berbenah sehingga dilirik wisatawan.

“Ini yang nanti akan kami dorong,” ujarnya. Diungkapkannya, hanya sedikit desa wisata yang berkembang di Klungkung saat ini.

Itu tidak lepas dari salah persepsi pihak desa atas penetapan suatu desa sebagai desa wisata. Selama ini masyarakat berpikir dengan ditetapkannya sebagai desa wisata, maka Pemerintah Daerah akan berupaya untuk mengembangkan desa tersebut.

“Padahal pihak desa lah yang harus berusaha mengembangkan desa wisatanya dan menggali potensi-potensi yang ada. Seperti yang dilakukan Pokdarwis Desa Wisata Bakas.

Mereka yang berupaya mengembangkan desa wisatanya hingga seperti saat ini. Ini yang nanti akan kami sosialisasikan

ke desa-desa sembari mencari tahu apa saja kendala kendala desa wisata di Klungkung hingga sulit berkembang,” tandasnya.

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP