alexametrics
Sabtu, 28 Nov 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Duh! Dipaksa Bayar Biaya RS, Pasien Positif Covid-19 Sampai Ngutang

25 September 2020, 23: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

pasien covid-19, pasien hutang, RS Swasta, pasien corona bayar, Pemkab Buleleng, GTPP COvid-19 Buleleng, peserta JKN-KIS, biaya RS, dikemplang bayar R

I Nyoman Sedana saat menjalani perawatan di RS (repro)

Share this      

SINGARAJA-Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah peribahasa yang pas bagi Nyoman Sedana, 46.  

Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 bukan hanya diminta membayar biaya perawatan RS hingga jutaan.

Namun selama menjalani rawat inap, warga asal Desa Tukadmungga ini juga tak mendapat pelayanan semestinya.

Karena merasa tak mendapat perawatan sebagaimana mestinya, Sedana meminta pulang paksa.

 Nah saat meminta pulang paksa itulah, Sedana diminta membayar biaya perawatan sebanyak Rp 5,7 juta.

Menurut Sedana, biaya Rp 5,7 juta yang diminta RS itu mencakup pengobatan untuk Sedana yang mengalami masalah pada jantung dan paru-paru.

Setelah menghubungi teman-temannya, ia akhirnya berhasil mendapat uang pinjaman untuk membayar uang perawatan yang diminta pihak RS. Tuntas dengan masalah pembayaran, ia akhirnya memilih melakukan isolasi mandiri di rumah bersama istrinya. Hingga kemarin praktis sudah dua pekan ia menjalani masa isolasi mandiri.

Selama masa isolasi mandiri, ia memilih melakukan perawatan secara mandiri dengan ramuan herbal.

Tiap hari ia mengonsumsi jeruk nipis, air kelapa, dicampur madu. Pada pagi hari ia mengonsumsi air dari kelapa gading, sementara pada siang dan malam harinya ia mengonsumi air kelapa hijau. Ditambah air rendaman kayu cendana.

Sayangnya hingga kini Jumat malam (25/9) belum ada jawaban dari pihak berwenang terkait kasus ini.

Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Buleleng Gede Suyasa saat dihubungi belum memberikan jawaban.

Namun melalui pesan singkat, Suyasa mengaku belum menerima laporan tersebut. “Di rumah sakit mana kejadiannya? Belum ada laporan masuk seperti itu,” ujar Suyasa. 

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP