alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarbali
Home > Events
icon featured
Events
KKN-PPM Undiksha di Desa Timpag

Kenalkan Tat Twam Asi, Wujud Desa Kolaboratif, Inovatif dan Berbudaya

09 Oktober 2020, 11: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

kkn - ppm, undiksha singaraja, desa timpag, tat twam asi, desa kolaboratif, desa inovatif, desa berbudaya

Dosen pembimbing pengabdian kepada masyarakat Undiksha Dewa Gede Hendra Divayana (tengah) ketika menyerahkan hasil pengabdian masyarakat kepada aparat Pemdes Timpag, Kecamatan Kerambitan, Tabanan. (Istimewa)

Share this      

SINGARAJA - Meski pandemi Covid-19 belum berakhir, kegiatan Kuliah Kerja Nyata - Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja tetap berlangsung, tapi secara daring.

Sebanyak 20 mahasiswa bersama tiga dosen pembimbing Dewa Gede Hendra Divayana, I Putu Wisna Ariawan, dan Wayan Arta Suyasa mengabdikan diri untuk melaksanakan

kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, yang berlangsung selama 31 hari.

Tujuan dari pelaksanaan pengabdian masyarakat dalam format KKN-PPM di Desa Timpag adalah untuk memberikan informasi

kepada masyarakat umum terkait beberapa strategi baru yang telah dilakukan oleh pengabdi untuk memecahkan permasalahan di Desa Timpag.

Yakni bidang ekonomi-kerakyatan, budaya, seni, dan pendidikan karakter, teknologi informatika (TI) untuk desa, kemudian kesehatan yang berlandaskan pengejawantahan konsep Tat Twam Asi.

Menurut  dosen pembimbing pengabdian masyarakat Dewa Gede Hendra Divayana bersama dua dosen lainnya, pihaknya melakukan observasi terlebih dulu sebelum melakukan pengabdian masyarakat di Desa Timpag.

Dari hasil observasi, ada beberapa hal yang perlu diselesaikan. Di antaranya terkait kesulitan masyarakat dalam bidang ekonomi-kerakyatan yang hanya mengandalkan hasil panen padi.

Merosotnya kualitas dalam bidang budaya, seni, dan pendidikan karakter anak-anak karena pengaruh era globalisasi yang dimanjakan dengan kemunculan teknologi.

Rendahnya keterampilan penggunaan teknologi informasi untuk membantu pekerjaan administratif perkantoran bagi guru-guru SD dan para pegawai kantor desa.

Disamping itu, belum tersedianya video profil ciri khas Desa Timpag sebagai desa konservasi burung hantu jenis Tyto Alba. Sehingga masyarakat luas belum banyak yang tahu adanya potensi ini.

 “Kemudian menurunnya kesadaran masyarakat desa dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan rumahnya serta masih rendahnya pengetahuan dan pemahaman

masyarakat dalam membudidayakan tanaman obat untuk dapat diolah menjadi obat-obatan tradisional dalam menunjang kesehatan masyarakat,” papar Hendra Divayana.

Terkait masalah tersebut, beberapa terobosan pihaknya ambil untuk dijadikan solusi. Terobosan yang diupayakan pada bidang ekonomi-kerakyatan. Yakni dengan memberdayakan hasil agraris.

Seperti misalnya: talas yang diolah menjadi keripik “Talas Manis” dan pisang yang diolah menjadi “Kripik Pisang Balado” khas Timpag sebagai usaha mikro masyarakat Desa Timpag. Karena tersedia bahan baku yang melimpah di desa tersebut.

 Terobosan lainnya bidang budaya, seni, dan pendidikan karakter. Di antaranya melalui pelatihan pembuatan klakat, canang sari/banten, dan ketupat banten khusus untuk memberdayakan bidang budaya.

Melalui pelatihan tari dan tabuh untuk memberdayakan bidang seni. Pelatihan cara berkomunikasi yang baik dan santun untuk memberdayakan pendidikan karakter.

Disamping pendidikan karakter juga perlu dikuatkan kemampuan kognitif anak-anak di Desa Timpag terutama pada tingkat SD yaitu berupa pelatihan gratis

Bahasa Inggris dan Matematika untuk mempersiapkan kemampuan berpikir logis mereka dan keterampilan mereka berbahasa internasionasional sejak dini sebagai persiapan menyongsong Desa Timpag sebagai desa wisata.

 “Kami juga buat terobosan yang diupayakan pada bidang TI untuk desa. Dengan pengembangan video profil ciri khas Desa Timpag sebagai desa konservasi burung hantu jenis Tyto Alba.

Pada bidang kesehatan memberikan pelatihan tentang tata cara pengumpulan sampah di tempat yang sesuai dan kemudian membuangnya pada satu tempat khusus,

pelatihan pengelolaan sampah non-organic dan organic, pelatihan pembudidayaan tanaman obat, dan pelatihan gosok gigi bagi anak-anak SD,” pungkasnya. (rba)

(rb/jul/mus/JPR)

 TOP