alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarbali
Home > Hiburan & Budaya
icon featured
Hiburan & Budaya

Gara-Gara Covid-19, Even Musik Metal di Karangasem Dibatalkan

16 Oktober 2020, 15: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

Komunitas musik metal di Karangasem

Komunitas musik metal di Karangasem (IST)

Share this      

AMLAPURA - Impian Komunitas Metal Corpse Karangasem menggelar even di Karangasem akhirnya kandas. Ini karena tengah adanya pandemi Covid-19 yang melanda dunia.

Namun demikian semangat komunitas ini dalam berkarya tetap tinggi. Padahal even tersebut jauh-jauh hari sudah disiapkan. Namun Pandemi membuat dunia pariwisata dan yang lainya sedang lesu darah.

Hal ini diakui I Putu Agus Mustika Adiarta yang merupakan salah satu komunitas pecinta musik metal, Batannyuh Metal Corpse. Sementara agenda yang rencananya akan digelar tahun 2020 adalah event Gumi Lahar #2. Selain itu Batannyuh Metal Corpse juga berencana akan meluncurkan album kompilasi beberapa band underground asal Bali dan luar Bali.

“Rencananya untuk album Kompilasi kami rilis Mei 2020, namun tidak bisa terlaksana,” ujarnya.

Sementara evan Gumi Lahar #2 rencanya akan dilakukan 6 Juni 2020, namun juga tidak bisa digelar karena kondisi pandemi yang juga berpengaruh pada dunia pariwisata dan hiburan.

 
Rilis album kompilasi batal dilakukan mengingat kondisi ekonomi sedang terpuruk, dengan mempertimbangkan daya beli yang anjlok tidak mungkin menjual album. Sementara untuk even musik tidak bisa dilakukan karena untuk mengumpulkan banyak orang tidak mungkin bisa dilakukan.

Karena ini jelas akan menyalahi protokol kesehatan dan juga sangat berisiko bagi kesehatan. Dengan kondisi tersebut semua agenda tahun 2020 yang sudah disusun akhirnya gagal.

Sekalipun ada kegelisahan yang cukup menganggu, namun demikian ini tidak sampai membuat semangat komunitas khusunya Batannyuh Metal Corpse anjlok. Dengan berbagai daya upaya mereka pun tetap semangat untuk band black metal yang bernaung pada komunitas Sesat Band.

Belakangan ini music black metal di Bali memang lagi lesu. Bukan hanya music metal namun juga music music yang lainya.

Beberapa bank Black Metal Lawas di Bali sudah lama vakum. Saat ini hanya masih terdengar Band Black Death asal Gianyar yaitu Divine Torture yang juga sempat ikut meramaikan panggung Gumi Lahar Death Fest pada 2 Februari 2019 lalu.

Saat ini Komunitas Batannyuh Metal Corpse masih tetap semangat. Ke depanya akan tampil lagi meramaikan music black metal di Bali dan juga Karangasem.

“Semangat untuk berkarya tetap ada, hampir tak pernah padam sekalipun masa sulit,” ujar salah satu anggota Komunitas Tjokorda Gede Ngurah Prebawa Putra di Karangasem kemarin.

Sesat Band sendiri saat ini memiliki sebuah single yang merupakan lagu dari Sesat Band dengan judul Pengiwa. Lagu ini sedang disiapkan untuk CD kompilasi Gumi Lahar.

Komunitas juga berkolaborasi dengan Budi Symposium Picture merancang sebuah Video Klip Musik untuk lagu Pengiwa. Ini sudah disiapkan selama hampir sebulan diantaranya untuk menyiapkan konsep dan model serta perangkat. Pengambilan gambar sendiri sudah dilakukan 20 Agustus 2020 oleh Budi Symposium Picture.

Pengambilan gambar dan video dilakukan dimaskar Komunitas di Desa Batannyuh Kelod, Karangasem.

Pengambilan gambar sendiri sudah rampung dan dilakukan selama satu hari. Konsep video juga menyesuaikan dengan judul lagu yaitu pengiwa. Di mana menceritakan proses ngereh dari seorang gadis yang memiliki ilmu pengiwa atau hitam.

 
Di klip ini juga diceritakan tarian sang gadis dari awalnya biasa dan berubah menjadi seram. Proses editing video ini juga memakan waktu sekitar satu bulan.

Akhirnya bertepatan dengan hari Kajang Kliwen Uwudan yang merupakan hari sakral bagi umat Hindu (11/10) lalu mulai ditayangkan di kanal Youtube Batannyuh Metal Corpse. Tanggal tersebut merupakan tayangan perdana.

Komunitas Batannyuh  dan Budi Symposium Picture berharap bisa memberikan kontribusi bagi belantika musik di Bali dan Karangasem. Ini juga sekaligus menjawab di tengah pandemi namun semangat berkarya masih ada sekaligus beberapa even harus gagal digelar.

“Kita memang harus tetap berkarya dalam bidang masing-masing, jangan menyerah,” ujarnya.

Ke depan mereka berharap akan selalu ada penerus untuk terus membangkitkan skema musik bawah tanah bumi lahar. Sepintas komunitas ini memang terlihat brutal, urakan. Namun demikian mereka berharap masyarakat tidak memandang buruk dengan keurakan dan terlihat brutal dari penampilan mereka. Karena itu merupakan bagian dari ekpresi mereka dalam berkesenian yakni dengan semboyang In Metal We Trust In Rebel We Blast.

(rb/tra/yor/mus/JPR)

 TOP