alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa
Heboh Fenomena Gaib di Pura Taman Sari Selat

Gelar Pengening dan Pemahayu Jagad, Bali Akan Membaik Setelah 42 Hari

Upacara Digelar Setelah Terima Pawisik

17 Oktober 2020, 18: 17: 14 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

fenomena gaib, mistis, Pura Taman Sari, Naga Gombang, Tri Khayangan, Pura Besakih, Pengening Pemahayu Jagat, Bali membaik, bisikan gaib,

Suasana upacara Pengening dan Pemahayu Jagat yang digelar di Pura Taman Sari Desa Badeg, Kecamatan Selat, Karangasem, beberapa waktu lalu (Istimewa)

Share this      

KARANGASEM-Sebagian masyarakat meyakini, munculnya fenomena mistis di Pura Taman Sari Desa Badeg, Kecamatan Selat, Karangasem dengan hadirnya sosok kepala naga atau “Naga Gombang” memiliki pertanda dan arti.

Salah satu tanda atau makna dari munculnya fenomena gaib di salah satu Pura tua di Karangasem Bali, itu yakni tentang kondisi alam yang tidak stabil.

Selain itu, kemunculan sosok Naga Gombang juga diartikan agar mahkluk (khususnya manusia) lebih waspada dan lebih instropeksi diri.

Seperti disampaikan I Made Dwija Nurjaya, salah seorang pengayah pura, Sabtu (17/10).

Menurutnya, munculnya fenomena gaib “Naga Gombang” yang berada tepat di depan pelinggih Padmasana memegang/melilit kura-kura Bedhawangnala bisa diartikan sebagai pertanda kondisi ketidakseimbangan alam atau bumi beserta isinya.

Ketidakseimbangan alam atau bumi itu, imbuh pria yang akrab disapa Jro Mangku Dwija, yakni bisa dengan munculnya rentetan peristiwa alam seperti bencana banjir, tanah longsor, gempa besar, serta carut marutnya perpolitikan dan sebagainya.

Untuk itu, dengan adanya pertanda mistis, pihaknya selaku pengayah bersama warga langsung menggelar Upacara Pengening dan Pemahayu Jagat di Taman Sari Desa Badeg, Selat, Karangasem.

“Ritual atau upacara sudah kami gelar pada Buda Pon Pujut atau hari Rabu tanggal 14 Oktober 2020 lalu,”jelas Jro Mangku Dwija

Sesuai petunjuk atau pawisik, ritual digelar dengan banten khusus dan waktu khusus.

Bahkan Upacara pengening dan pemahayu jagat di Taman Sari Desa Badeg menurutnya juga menjadi bagian dari “Ruat Bumi Nusantara

Ruwat Bumi Nusantara ini merupakan upacara untuk memperingati 1.000 (Seribu) tahun yang lalu dan untuk 1.000 tahun yang akan datang,”jelasnya.

Selain itu, saat upacara yang juga diikuti para pemedek dari Denpasar, Puri Selat dan krama/warga setempat itu, imbuh Jro Mangku Dwija, selaku Pemuput atau Pandita/Pendeta Utama yakni Jro Mangku Aseman sebagai Jro Mangku Hyang Kutus.

Sedangkan rangkaian upacara yang digelar di depan Padmasana, yakni meliputi Pakeling (pemberitahuan di Puri Selat); Payogan Ki Sangkul Putih; dan Sang Hyang Tiga Wisesa (Meru Tumpang Tiga)

“Petunjuk tentang design upacara dan rangkaiannya di peroleh setelah berkoordinasi dengan Jro Mangku Aseman. Dasar sastranya dalam bahasa Parokshah adalah "Rang Sang Namang Ung". Pakeling/pemberitahuan di Puri Selat, Karangasem, Payogan Ki Dukuh Sakti, Stana Ida Giripati dan Ida Hyang Tri Purusha,”jelas Jro Mangku Dwija. 

Sementara untuk banten, saat upacara pengening dan pemahayu jagat, masih kata Jro Mangku Dwija yakni menggunakan Daksina putih, Prayas cita, segehan agung dengan caru bebek putih.

“Semua banten tersebut merupakan petunjuk dari Beliau Ida Bhatara Gunung Agung.  Astungkara setelah acara (Upacara Pengening dan Pemahayu Jagat) keadaan alam Bali khususnya akan membaik setelah 42 hari sejak adanya upacara. Semoga,”jelasnya. 

(rb/pra/pra/JPR)

 TOP