alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radarbali
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Minim Pemasukan, Korbankan Satwa Herbivora Jadi Makanan Harimau

Langkah LK di Bali Atasi Biaya Operasional

19 Oktober 2020, 07: 24: 48 WIB | editor : ali mustofa

minim pemasukan, satwa herbivora, makanan harimau, hewan buas, biaya operasional, bali bird park, bali safari park

Hyene, salah satu hewan buas koleksi Bali Safari Park. Beberapa lembaga konservasi di Bali terancam korbankan satwa herbivora koleksi mereka untuk pakan hewan buas lantaran minim pemasukan (dok.radarbali)

Share this      

GIANYAR - Pagebluk covid-19 yang terjadi sejak enam bulan belakangan mulai mengancam keberlansungan hidup satwa yang ada di Lembaga Konservasi (LK) di Bali.

Sebagian LK mulai kelimpumgan akibat biaya operasional yang dikeluarkan tak mampu lagi mengcover biaya pemeliharaan satwa.

Dengan kondisi pemasukan yang sangat minim, sejumlah LK di Bali meminta bantuan pemerintah untuk mendapatkan relaksasi pajak mengingat nilai yang dibayarkan selama ini normal seperti sebelum covid-19.

Ketua Umum PKBSI Dr H Rahmat Shah menuturkan, apabila ke depan tidak ada bantuan dari pemerintah atau donatur terhadap lembaga-lembaga konservasi ini, dengan terpaksa pihaknya akan mengambil langkah alternative.

Salah satunya yang ekstrem yakni mengorbankan beberapa satwa herbivora untuk dijadikan pakan satwa-satwa pemakan daging seperti harimau dan lainnya.

“Hewan herbivora yang mudah kembang biak dengan kuantitas melahirkan satu sampai tiga kali setahun, umur sudah tua itu yang terpaksa kami korbankan.

Di luar negeri sudah melakukan itu. Yang kami lindungi tentu satwa endemik Indonesia yang langka. Sejauh ini kondisinya masih baik, meskipun porsi makanan kami ambil yang minimum.

Bukannya kami menyalahi aturan, kita tidak akan tempuh kecuali terpaksa. Jadi di saat seperti ini, mohon kami dibantu,” ucap Rahmat.

Untuk diketahui, jumlah kunjungan di beberapa lembaga konservasi di Bali mengalami penurunan drastis akibat dampak dari covid-19 ini.

Bahkan, rata-rata kunjungan hanya 10 persen dari biasanya. Bali Bird Park, misalnya, hanya membukukan kunjungan pada akhir pekan antara Sabtu dan Minggu rata-rata 200 pengunjung.

“Kami belum ada PHK, yang ada baru perumahan karyawan. Jadi, kita lihat kalau sudah kondisi bagus pasti akan dipekerjakan lagi.

Terkait apa yang disampaikan kami meminta Pemkab Gianyar ada kontribusi kepada lembaga konservasi. Kami sudah bersurat ke pemkab Gianyar, cuma belum ada tanggapan,” kata Pande Suastika, GM Bali Bird Park.

Kondisi sulit juga dialami oleh lembaga konservasi Bali Safari. Operation Manager Bali Safari, Ketut Suardana menuturkan,

untuk menekan biaya operasional, sejak bulan Maret lalu pihaknya melibatkan karyawan untuk mencari pakan ternak ke beberapa petani.

Salah satunya dengan meminta sisa-sisa panen batang jagung, sayur mayur yang tidak bisa dijual petani dan lainnya.

“Itu kami lakukan setiap hari. Petani-petani khususnya di desa-desa pendamping kami sangat mendukung,” pungkasnya. 

(rb/zul/mus/JPR)

 TOP