alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Abrasi di Wilayah Pesisir Buleleng Timur Makin Mengkhawatirkan

Selain Alam, Penambangan Liar Jadi Pemicu

20 Oktober 2020, 18: 45: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

abrasi, pesisir Buleleng timur, penambangan liar, penambangan batu sikat, BSW Bali Penida, DLH Buleleng, PU Buleleng,

AMBROL : Salah satu kondisi vila yang dihuni WNA Belanda dan terkena dampak abrasi (Eka Prasetya)

Share this      

KUBUTAMBAHAN– Ancaman abrasi kembali menghantui warga yang bermukim di wilayah Buleleng Timur.

Kekhawatiran warga itu setelah sejumlah senderan penahan ombak yang dibangun di wilayah Kubutambahan mulai rusak dan hancur.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, akibat abrasi, selain menggerus lahan milik warga, abrasi juga merusak vila yang dihuni seorang warga Negara asing asal Belanda di wilayah pesisir atau tepatnya di wilayah Banjar Dinas Tukad Ampel, Desa Kubutambahan, Buleleng.

Perbekel Kubutambahan Gede Pariadnyana saat dikonfirmasi, Selasa (20/10) membenarkan dengan makin parahnya abrasi di wilayahnya.

Menurutnya, makin parahnya abrasi di pesisir Buleleng timur itu selain diduga dipicu karena gelombang pasang atau faktor alam. Makin parahnya abrasi di Kubutambahan juga disebabkan banyaknya aktivitas penambangan liar batu sikat dan pasir.

“Sebenarnya kami di desa bersama dengan tramtib kecamatan sudah berusaha melakukan pembinaan. Tapi masih saja ada yang kucing-kucingan,” keluhnya.

Sementara itu, dengan makin parahnya abrasi di pesisir Buleleng Timur, Kasi Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa Lingkungan I Gusti Ayu Endang dan Kasi Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng Putu Juwita langsung melakukan pengecekan.

Tim dari DLH turun karena mendapat info adanya aktifitas eksploitasi batu sikat di sekitar lokasi. Dari hasil pemantauan, tim mengambil kesimpulan bahwa kerusakan itu terjadi karena faktor alam.

“Ini memang murni karena gelombang pasang. Belum kami temukan pengambilan pasir dan batu sikat seperti laporan awal yang kami terima. Nanti kami akan koordinasikan dengan instansi teknis terkait, termasuk Dinas PU (Pekerjaan Umum).

Agar kerusakan akibat abrasi ini bisa disampaikan pada BWS (Balai Wilayah Sungai) Bali Penida,” tukas Endang.

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP